Serba Serbi komplit

Indahnya Toleransi Antar Agama

No comments:
"Saya nyaman-nyaman aja, masyarakat disini sudah bisa menerima perbedaan.”

Begitulah tutur gadis muda asal Medan Sumatera Utara yang sudah menetap di Kota Banda Aceh sejak 2009 lalu ketika ditemui di kampus Unsyiah, Selasa 20 Desember 2016. Sebagai pemeluk agama Kristen, gadis muda yang bernama lengkap Evriani Rotua Gea mengaku nyaman hidup di Aceh yang manyoritas masyarakatnya muslim.





Seperti umat kristiani lainya, saat Natal tiba, gadis yang akrab disapa Evri ini juga merayakannya. Tidak ada rasa ketakutan baginya merayakan natal di Aceh di tengah-tangah masyarakat yang menerapkan Syariat Islam, hal ini karena di Aceh menurut Evri aman dimana masyrakat sangat menghargai perbedaan.

Evri adalah salah satu dari beberapa mahasiswa yang beragama kristen di Universitas jantong hate rakyat Aceh, Universitas Syiah Kuala. Dia tetap nyaman belajar di Unsyiah, walau rekan-rekannya mayoritas muslim.

Belajar bersama kawan-kawan muslim bukan lagi hal baru bagi Evri, karena sejak pertama dia ke Aceh ikut orang tua pada tahun 2009 dulu, dia didaftarkan di SMP Negeri 2 Darul Imarah yang mayoritas siswa-siswinya beraga Islam. Ketika itu Evri duduk dikelas 3, melanjutkan pendidikan yang sebelumnya ditempuh di Medan.

Pertama datang ke Aceh, gadis kelahiran 1995 ini sempat shock teradap budaya Aceh. Beruntung orang tuanya yang sudah duluan menetap di Aceh memberikan pemahaman kepada Evri jika di Aceh menerapkan Syariat Islam dan kental dengan budaya Islam. Sebagai pendatang yang juga berkeyakinan berbeda tentu menjadi hal baru bagi Evri.

“Pertama ke Aceh aku Shock Culture, di sini aku liat orang menutup toko ketika hari Jumat, di Medan tidak ada,” katanya dalam bahasa yang masih terasa logat Batak tersebut.

Menghargai kawan-kawanya yang muslim, Evri menggunakan Jilbab selama satu tahun belajar di SMP Negeri Darul Imarah. Kendati demikian, dia tetap memberi pemahaman kepada kawan-kawannya jika dia sorang kristiani bukan muslim. Sementara guru-gurunya juga mendukung apa yang dilakukan Evri.

Seperti murid-murid lainnya, Evri mengikuti semua tahapan belajar di sekolah tersebut. Termasuk pelajaran agama, seperti Aqidah Akhlak, Fiqih, dan pengajian Yasin disetiap pagi Jumat. Hal ini dilakukan karena pribadi Evri yang suka cari tau terhadap hal-hal baru.

“Mata pelajaran agama bisa keluar bisa masuk, saya pengen tau, saya ikut belajar agama, seperti Aqidah Akhlak dan Fiqih, jika pagi jumat juga ikut yasinan, sampai sekarang masih ingat dikit-dikit,” katanya.

Evri mengaku, sebagai anak-anak yang baru memasuki masa pertumbuhan, ada juga beberapa kawan yang jail dan mengganggunya karena berbeda keyakinan. Namun hal itu disikapinya sebatas kenalan anak-anak saja bukan berarti mareka tidak suka terhadap dia. Bahkan, dia mengetahui jika di sekolah tersebut anak dua siswa lagi yang seiman dengannya juga dari kawannya yang muslim.

Masa menempuh pendidikan di SMP Negeri Darul Imarah banyak memberikan pelajaran bagi Evri tentang bagaimana hidup sebagai minoritas dan saling menghargai.

“Sampai sekarang saya masih menjalin komunikasi dengan kawan-kawan muslim saya yang satu SMP dulu,” ujarnya.

Merasa nyaman sekolah bersama kawan-kawan muslim, setelah tamat SMP Evri berencana melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 1 Banda Aceh. Namun karena kurang beruntung dia tidak lewat, akhirnya atas bujukan pamannya, Evri melanjutkan sekolah di SMA Metodis Banda Aceh. Walaupun sekolah metodis, disitu Evri tetap tidak terpisahkan dengan kalangan muslim, karena di sekolah tersebut, selain ada beberapa siswa muslim mayoritas gurunya juga orang muslim.

Tetapi ketika sudah terdata sebagai siswi di SMA Metodis, Evri sudah melepaskan jilbabnya tidak lagi seperti ketika di SMP Negeri Darul Imarah. Hal ini dilakukan Evri lantaran di SMA tersebut semua murid kristiani tidak memakai jilbab, menyesuaikan diri agar tidak dikira aneh oleh sesama kawan seiman dengannya maka Evri memutuskan melepaskan jilbabnya.
“Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung Bang,” katanya.

Tahun 2013 Evri melanjutkan pendidikannya kejenjang Universitas, dia memilih Unsyiah sebagai kampus tempat dia menempa Ilmu. Dibangku kuliah dia kembali menemukan keberagaman baru, beragamnya mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah menjadi tantangan baru baginya dalam menyesuaikan diri.

Walaupun dijurusan Evri kuliah Bahasa dan Sastra Inggris FKIP Unshyiah ada beberapa mahasiswa yang juga beraga kristiani, Evri tetap berkawan dengan mahasiswa muslim. Kawan-kawannya tidak mempermasalahkan daerah asal dan cara berdoa Evri, sebagai mahasiswa yang sama-sama belajar dari guru yang sama mareka tetap berkawan.

Selama menempuh kuliah, Evri juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Seperti melakukan penggalangan dana untuk korban banjir dan korban gempa Pidie Jaya. Dia merasa senang karena walaupun nampak berbeda karena tidak mengenakan jilbab ketika melakukan penggalangan dana di jalan, masyarakat tetap mempercayakan bantuan mareka dititipkan kepadanya untuk disalurkan kepada para korban yang sedang tertimpa musibah.

Selama 6 tahun berada di Aceh telah mejadikan budaya Aceh sebagai bagian dari kehidupannya. Bahkan Evri sudah mengerti ketika orang berbicara bahasa Aceh walaupun masih susah dalam pengungkapannya.

Evri mengaku senang hidup di Aceh, walaupun sebagai minoritas dia tetap bebas menjalankan keyakinannya tanpa gangguan dari manapun. Masyarakat Aceh menurutnya sangat toleran dalam menerima perbedaan.

Dia mencontohkan kawan yang menemaninya saat diwawancarai mediaaceh.co, walaupun berbeda keyakinan tetapi mareka tetap bisa berkawan.

Kisah kehidupan Evri adalah salah satu dari sekian kisah warga non muslim yang hidup di Aceh. Kehidupan harmonis dalam perbedaan ini adalah bukti jika pelaksanaan Syariat Islam di Aceh tidak negatif seperti yang dianggap oleh masyarakat luar Aceh. Kisah Evri juga mematahkan stigma negatif yang terkadang sengaja digiring dalam pemberitaan media massa terhadap pelaksanaan Syariat Islam sehinga citra Aceh menjadi buruk di mata internasional.


Misteri Sidratul Muntaha, Pohon yang Tumbuh di Atas Langit - Serba Serbi Komplit

No comments:
Sidratul Muntaha merupakan sebuah pohon bidara yang sangat tinggi, tumbuh di langit ke enam dan menjulang hingga langit ke tujuh. Di pohon ini lah Nabi Muhammad bertemu Allah SWT saat menjemput perintah shalat pada peristiwa Isra’ Mi’raj.

Konon pohon inilah yang menandai akhir dari langit dan menjadi penanda batas dimana makhluk tidak dapat melewatinya. Dinamakan sidratul muntaha (pohon puncak), karena ilmu malaikat puncaknya sampai di sini. Tidak ada yang bisa melewatinya, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengenai Sidratul Muntaha, banyak ulama yang menyodorkan berbagai pendapat. Hadist dari Ibnu Abbas (Radi Allah Anhu) mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang Sidratul Muntaha.

Nabi Muhammad mendeskripsikan bagaimana perjalalannya ke Sidratul Muntaha yang ditemani oleh Malaikat Jibril. Ia menceritakan bagaimana keadaan Sidratul Muntaha namun tidak bisa menggambarkan keindahannya dengan rinci karena hanya Allah SWT yang maha tahu. Pandangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melebihi batas yang diizinkan. Ini menunjukkan bagaimana adab beliau saat menjadi tamu Allah SWT.

Di sana Nabi Muhammad melihat berbagai kejadian yang luar biasa. Beliau melihat surga, melihat neraka dan melihat kejadian gaib pada malam isra miraj. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

Ketika saya dimi’rajkan ke langit ke tujuh, saya diajak ke sidratul muntaha,… ketika pohon ini diliputi perintah Allah, dia berubah. Tidak ada seorangpun manusia yang mampu menggambarkannya, karena sangat indah. (HR. Abu Ya’la Al-Mushili 3450 dan dishahihkan Husain Salim Asad).

Nabi Muhammad SAW menggabarkan sekilas dalam beberapa hadist yang jika dirangkum menyebutkan bahwa Sidratul Muntaha  adalah pohon yang terbuat dari emas seluruhnya. Beberapa dahan yang terbuat dari zamrud,  ada juga yang dari ruby. Dari akarnya keluar dua sungai luar dan dua sungai dalam, Adapun dua yang dalam itu ada di surga sedangkan dua yang di luar itu adalah Nil dan Eufrat. Pohon ini mengukur jarak seratus lima puluh tahun perjalanan dari kaki ke puncaknya.

Nabi Muhammad SAW juga menggambarkan bahwa daun Sidratul Muntaha menyerupai telinga gajah, dan mereka sangat besar: Satu dahan saja dari mereka akan menutupi seluruh dunia. Buahnya berbentuk seperti kendi air. Seluruh pohon yang ditelan oleh cahaya. Pohon ini dikelilingi dan dipeluk oleh banyak malaikat di atasnya. Malaikat Jibra'il juga memiliki tempatnya pada cabang-cabang pohon ini, dan itu adalah cabang yang terbuat dari zamrud hijau

Selain itu, juga tersembur sebuah pegas di bawah pohon itu. Malaikat Jibril mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa pegas tersebut itu bernama Salsabil. Ini adalah sumber dari dua air,  satu adalah Kawthar (Kelimpahan);    yang lain adalah Rahma (rahmat). Kedua sungai mengalir sebelum gerbang Garden. Musim semi Salsabil adalah sumber dari perairan ini.

Dikatakan pula bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melihat Allah yang berupa cahaya. Di Sidratul Muntaha ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan perintah salat 5 waktu.

Dari beberapa hadist bisa menyimpulkan gambaran Sidratul Muntaha :
  1. Sidratul muntaha bentuknya pohon, layaknya pohon bidara. Sama nama, namun beda hakekat.
  2. Pohon ini berada di atas langit ketujuh.
  3. Pohon ini sangat besar, hingga ketika penunggang kuda hendak melintasi bayang-bayangnya, dia membutuhkan waktu 100 tahun baru bisa sampai ke ujung.
  4. Sidratul muntaha memiliki duan dan buah
  5. Daun sidratul muntaha seperti telinga gajah, dan buahnya seperti kendi yang sangat besar.
  6. Terdapat laron-laron dari emas di sana.
  7. Diliputi dengan perintah Allah, hingga warnanya berubah.
  8. Pohon sidratul muntaha sangat indah, hingga tidak ada manusia yang mampu menggambarkan keindahannya.
  9. Di dekat sidratul muntaha terdapat surga
Deskripsi tentang Sidratul Muntaha dalam hadits-hadits tentang Isra Mi’raj tersebut hanyalah berupa gambaran (metafora) sebatas yang dapat diungkapkan kata-kata. Hakikatnya hanya Allah yang Maha Tahu. Ya Rab, berikan kami kekuatan istiqamah dan masukkan kami ke dalam surga-Mu dengan rahmat-Mu. Aamiin


Perkataan Yang Sangat Mungkar Yang Hampir Membuat Langit Pecah Bumi Terbelah Gunung Runtuh - Serba Serbi Komplit

No comments:

Pantaskah Allah dikatakan punya anak seperti yang disuarakan oleh orang Nashrani?

Sungguh perkataan ini adalah perkataan yang sangat mungkar yang hampir membuat langit terbelah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92

“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 88-92)

Inilah sanggahan yang telak pada orang yang menyatakan Allah memiliki anak seperti yang disuarakan oleh orang Nashrani. Orang Nashrani menyatakan Isa sebagai putera Allah. Juga orang Yahudi menyatakan bahwa Uzair itu putera Allah. Sedangkan orang musyrik menyatakan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Maha Suci Allah akan perkataan busuk mereka.

Allah pun membantah bahwa sungguh perkataan tersebut sangat-sangat keji. Yang menunjukkan bahayanya perkataan semacam itu, Allah katakan bahwa hampir-hampir saja langit runtuh. Gara-gara perkataan itu pula, bumi hampir saja terbelah. Gunung-gunung pun ikut hancur lantaran perkataan mungkar tersebut.

Ingatlah, Allah tidak pantas dikatakan demikian. Apabila dinyatakan Allah memiliki anak, itu menunjukkan adanya sifat kekurangan dan itu sama saja menandakan Allah itu butuh pada makhluk. Padahal Allah itu “al ghoniy al hamiid”, yang Maha Cukup (artinya: tidak butuh pada makhluk-Nya) dan Maha Terpuji.

Begitu pula jika ada yang mengatakan Allah memiliki anak, berarti anak itu akan serupa dengan orang tuanya. Padahal tidak ada yang serupa dengan Allah Ta’ala. Demikian yang dikatakan oleh Syaikh As Sa’di dalam kitab tafsirnya, Taisir Al Karimir Rahman.

Berarti kekeliruan dari pernyataan Allah itu memiliki anak: (1) Allah itu tidak butuh pada makhluk, (2) Allah itu tidak serupa dengan makhluk sebagaimana kemiripan antara orang tua dan anak.

Ka’ab Al Ahbar mengatakan,

غضبت الملائكة، واستعرت النار ، حين قالوا ما قالوا

“Malaikat akan murka, api neraka akan panas menyala ketika mereka menyuarakan apa yang mereka katakan.”

Meski dikatakan seperti itu, Allah masih tetap memberikan rezeki. Meskipun disakiti, Allah tetap memberikan maaf. Dalam hadits yang dikeluarkan dalam shahihain,

لَيْسَ أَحَدٌ – أَوْ لَيْسَ شَىْءٌ – أَصْبَرَ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ ، إِنَّهُمْ لَيَدْعُونَ لَهُ وَلَدًا ، وَإِنَّهُ لَيُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih sabar dari bentuk disakiti yang ia dengar selain Allah. Mereka menyatakan bahwa Allah memiliki anak. Meski demikian, Allah masih memaafkan mereka dan tetap memberikan mereka rezeki.” (HR. Bukhari no. 6099 dan Muslim no. 2804, dari Abu Musa).

Demikian pelajaran dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah.

Namun tetap perkataan “Allah itu punya anak” adalah mungkar.

Ibnu Katsir menyatakan,

وأنه لا إله إلا هو، وأنه لا شريك له، ولا نظير له ولا ولد له، ولا صاحبة له، ولا كفء له، بل هو الأحد الصمد:

وفي كُلّ شَيءٍ له آيةٌ … تَدُل على أنه واحِدُ …

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya. Allah tidaklah memiliki anak dan istri. Tidak ada yang semisal dengan-Nya. Allah itu Al Ahad Ash Shomad (Maha Esa dan semua makhluk bergantung pada-Nya).

Pada segala sesuatu terdapat ayat (tanda kuasa Allah), itu semua menunjukkan Allah itu Esa.” 

Demikian dinukil dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim (Tafsir Ibnu Katsir).

(Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal)

·      

Kisah Dibalik Uang 5000 Ribu Dulu - Serba Serbi Komplit

No comments:




Selesai melakukan isi ulang tiket perjalanan kereta api di 'vending machine' KRL Commuter Line Jabodetabek, keluarlah uang kembalian pecahan 'gocengan' baru (Rp 5.000).

Jujur... meski sudah beberapa hari beredar, dan saya sendiri bekerja di perbankan (syariah), baru hari ini saya memegang uang pecahan baru tsb. *norak banget dah... :D

Saya pandangi dan amati dengan seksama sosok tokoh di lembaran uang tsb, yang tak lain dan tak bukan adalah KH. Idham Chalid. Sosok Ulama yang Umara dan Umara yang Ulama.


Sebagai Ulama, beliau merupakan ketua PBNU yang terpilih dalam usia yang sangat muda (34 tahun) yang menjabat sejak tahun1954-1984 (28 tahun) dan merupakan ketua PBNU terlama dalam sejarah ormas Islam terbesar di Indonesia tsb.





Sebagai Umara, beliau pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR.

Tiba-tiba saya teringat kisah yang seringkali diceritakan oleh para ustadz ketika menggambarkan ttg indahnya ukhuwah dan tasamuh (toleransi) yang terjadi diantara para ulama.

Syahdan, dulu KH. Idham Chalid (Pimpinan PBNU) pernah satu kapal dengan Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah) dengan tujuan yang sama menuju tanah suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Tidak ada kisah istimewa dari kedua tokoh berbeda paham tersebut hingga waktu shalat Shubuh menjelang.

Di saat hendak melakukan shalat Shubuh berjamaah, KH. Idham Chalid dipersilakan maju untuk mengimami. Secara tiba-tiba, pada rakaat kedua, KH. Idham
Chalid meninggalkan praktek Qunut Shubuh, padahal Qunut Shubuh bagi kalangan NU seperti suatu kewajiban. Semua makmun mengikutinya dengan patuh. Tak ada nada protes yang keluar walau ada yang mengganjal di hati.
Sehingga seusai salat Buya Hamka bertanya: “Mengapa Pak Kyai Idham Chalid tidak membaca Qunut.”

Jawab KH. Idham Chalid: “Saya tidak membaca doa Qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut.” Subhanallah...

Keesokan harinya, pada hari kedua, Buya Hamka yang giliran mengimami shalat Shubuh berjamaah. Ketika rakaat kedua, mendadak Buya Hamka mengangkat kedua tangannya, beliau membaca doa Qunut Shubuh yang panjang dan fasih. Padahal bagi kalangan Muhammadiyah Qunut Shubuh hampir tidak pernah diamalkan.

Seusai shalat, KH. Idham Chalid pun bertanya: “Mengapa Pak Hamka tadi membaca doa Qunut Shubuh saat mengimami salat?”

“Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat Shubuh. Saya tak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut,” jawab Buya Hamka.

Akhirnya kedua ulama tersebut saling berpelukan mesra. Jamaah pun menjadi berkaca-kaca menyaksikan kejadian yang mengharukan, air mata tak dapat mereka tahan.

Saat ngaji di masa kecil dulu, kisah ini juga sering dijadikan jawaban oleh ustadz ketika ada yang bertanya hukum membaca doa qunut pada sholat Subuh.

"Yang baca doa qunut, benar sholat subuhnya. Yang tidak baca doa qunut juga benar sholat subuhnya. Yang salah adalah yang tidak sholat subuh," begitu kata pak ustadz. :)

Bagi kita saat ini, kisah tsb juga mengandung pelajaran yang sangat berharga. Bahwa perbedaan ormas, partai, mahdzab, jamaah, atau apapun namanya, jangan sampai membuat kita berpecah belah dan bermusuhan.

Sebab musuh kita yang sesungguhnya adalah:
1. Mereka yang menistakan agama.
2. Orang-orang kafir yang memerangi kita.
3. Asing dan aseng yang merampok kekayaan negeri.

[Catatan pulang kerja di malam Jum'at terakhir di tahun 2016]
·      

Subhanallah... HEBOH Surat Al-Ikhlas Ayat 3 (3 Orang Nasrani Masuk Islam) - Serba Serbi Komplit

No comments:


Di tengah HEBOH Ceramah Habib Rizieq Syihab surat Al-Ikhlas ayat 3 "Tuhan Tidak Beranak" yang dipolisikan oleh Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP-PMKRI).

Alhamdulillah... Allah Yang Maha Esa, Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Yang tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan Yang tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia... telah memberikan HIDAYAH ISLAM kepada 3 orang Nasrani.

Sekjen Mualaf Center Hanny Kristianto melalui laman fb-nya menuturkan pada Rabu, 28 Desember 2016, masih dalam suasana Natal, 3 orang Nasrani masuk Islam.

Mereka adalah Darwin, SH., Rio Fernando, dan Nathanael..

Dengan dibimbing Tim Mualaf Center, mereka mengikrarkan Syahadat di Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur.

Mereka telah "terlahir" kembali, kembali kepada "fitrah" manusia, kembali kepada Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi Allah.

Semakin ajaran Islam "dipersoalkan" maka akan semakin "terbuka" kebenaran.

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

"Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk Allah berikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS Al An’aam 125)

Semoga mereka dan kita semua sentiasa diberi keistiqomahan dan keteguhan dalam ber-Islam.

·