Serba Serbi komplit

MAKALAH SEJARAH TENTANG CANDI BOROBUDUR

No comments:

BAB I
PENDAHULUAN

A. Alasan Memilih Judul

Yang menjadi alasan memilih judul dalam karya tulis yang berjudul “ Candi Borobudur “ ini adalah sebagai berikut:
1. Kita sebagai siswa yang masih banyak memerlukan pengetahuan yang perlu di ketahui
2. Sebagai siswa Supaya dapat menggali ilmu Pengetahuan lebih dalam dan mengembangkannya
3. Sebagai siswa tertarik kepada keindahan dan seni budaya bangunan Candi Borobudur
4. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sejarah berdirinya Candi Borobudur

B. Batasan Masalah

Agar pembahasan sesuai dengan yang di inginkan penulis dapat tercapai dengan tepat dan benar maka penulis membatasi masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Sejarah Candi Borobudur?

2. Apakah Arti Borobudur?
3. Benda – Benda Apa Saja Yang Ada Di Candi Borobudur?
4. Bagaimana Peranan Candi Borobudur Bagi Obyek Wisata?

C. Tujuan Yang Ingin Di Capai

Dengan di buatnya karya tulis ini, penulis mempunyai tujuan pokok yang ingin di capai adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menghayati sejarah berdirinya Candi Borobudur
2. Sebagai siswa harus tahu latar belakang di dirikannya Candi Borobudur
3. Untuk mengetahui makna dan arti yang terkandung dalam komplek bangunan Candi Borobudur
4. Mengetahui peranan Candi Borobudur sebagai objek Wisata

D. Sumber – Sumber Yang Di Gunakan

Sumber – Sumber bahasan yang di gunakan untuk pembuatan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1. Metode Deskriptif: yaitu Metode yang menggambarkan masalah yang ada pada masa sekarang
2. Metode Biografi: Yaitu metode dengan cara meneliti batu – batu majalah dan media lainya
3. Metode Observasi: yaitu penulis terjun langsung ke lapangan untuk penelitian agar mudah mendapat data – data
4. Dan informasi dari beberapa tokoh masyarakat di sekitar Candi Borobudur


BAB II
SEJARAH SINGKAT CANDI BOROBUDUR


A. Waktu Di Dirikan

Banyak buku – buku sejarah yang menuliskan tentang Candi Borobudur akan tetapi kapan Candi Borobudur itu di dirikan tidaklah dapat di ketahui secara pasti namun suatu perkiraan dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli Candi Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari prasati di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan sekitar tahun 800 M.
Kesimpulan tersebut di atas itu ternyata sesuai benar dengan dengan kerangka sejarah Indonesia pada umumnya dan juga sejrah yang berada di daerah jawa tengah paa khususnya periode antara abad ke – 8 dan pertengahan abad ke – 9 di terkenal dengan abad Emas Wangsa Syailendra kejayaan ini di tandai di bangunnya sejumlah besar candi yang di lereng – lereng gunung kebanyakan berdiri khas bangunan hindu sedangkan yang bertebaran di dataran – dataran adaaalah khas bangunan Budha tapi ada juga sebagian khas Hindu
Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di bangun oleh wangsa Syailendra yang terkenal dalam sejarah karena karena usaha untuk menjungjung tinggi dan mengagungkan agama Budha Mahayana.

B. Penemuan Kembali

Borobudue yang menjadi keajaiban dunia menjulang tinggidi antara dataran rendah di sekelilingnya
Tidak akan pernah mamasuk akal mereka melihat karya seni terbesar yang merupakan hasil karya sangat mengagumkan dan tidak lebih masuk akal lagi bila di katakan Candi Borobudur pernah mengalami kerusakan
Memang demikian keadaannya Candi Borobudur terlupakan selama tenggang waktu yang cukup lama bahkan sampai berabad – abad bangunan yang begitu megahnya di hadapkan pada proses kehancuran. Kira – kira hanya 150 tahun Candi Borobudur di gunakan sebagai pusat Ziarah, waktu yang singkat di bandingkan dengan usianya ketika pekerja menghiasi / membangun bukit alam Candi Borobudur dengan batu – batu di bawah pemerintahan yang sangat terkenal yaitu SAMARATUNGGA, sekitar tahun 800 – an dengan berakhirnya kerajaan Mataram tahu 930 M pusat kehidupan dan kebudayaan jawa bergeser ke timur
Demikian karena terbengkalai tak terurus maka lama – lama di sana – sini tumbuh macam – macam tumbuhan liar yang lama kelamaan menjadi rimbun dan menutupi bangunannya. Pada kira – kira abad ke – 10 Candi Borobudur terbengkalai dan terlupakan.
Baru pada tahun 1814 M berkat usaha Sir Thomas Stamford Rafles Candi Borobudur muncul dari kegelapan masa silam. Rafles adalah Letnan Gubernur Jendral Inggris, ketika Indonesia di kuasai / di jajah Inggris pada tahun 1811 M – 1816 M.
Pada tahun 1835 M seluruh candi di bebaskan dari apa yang menjadi penghalang pemandangan oleh Presiden kedua yang bernama Hartman, karen begitu tertariknya terhadap Candi Borobudur sehingga ia mengusahakan pembersihan lebih lanjut, puing –puing yang masih menutupi candi di sigkirkan dan tanah yang menutupi lorong – lorong dari bangunan candi di singkirkan semua shingga candi lebih baik di bandingkan sebelumnya.

C. Penyelamatan I

Semenjak Candi Borobudur di temukan dimulailah usaha perbaikan dan pemugaran kembali bangunan Candi Borobudur mula – mula hanya dilakukan secara kecil – kecilan serta pembuatan gambar – gambar dan photo – photo reliefnya. Pemugaran Candi Borobudur yang pertam kali di adakan pada tahun 1907 M – 1911 M di bawah pimpinan Th Van erf dengan maksudnya adalah untuk menghindari kerusakan – kerusakan yang lebih besar lagi dari bangunan Candi Borobudur walaupun banyak bagian tembok atau dinding – dinding terutam tingkat tiga dari bawah sebelah Barat Laut, Utara dan Timur Laut yang masih tampak miring dan sangat mengkhawatirkan bagi para pengunjungmaupun bangunannya sendiri namun pekerjaan Van Erp tersebut untuk sementara Candi Borobudur dapat dsi selamatkan dari kerusakan yang lebih besar.
Mengenai gapura – gapura hanya beberapa saja yang telah di kerjakan masa itu telah mengembalikan kejayaan masa silam, namun juga perlu di sadari bahwa tahun – tahun yang di lalui borobudur selama tersembunyi di semak – semak secara tidak langsung telah menutupi adan melindungi dari cuaca buruk yang mungkin dapat merusak bangunan Candi Borobudur, Van Erp berpendapat miring dan meleseknya dinding – dinding dari bangunan itu tidak sangat membahayakan bangunan itu, Pendapat itu sampai 50 tahun kemudian memang tidak salah akan tetapi sejak tahun 1960 M pendapat Tn Vanerf itu mulai di ragukan dan di khawatirkan akan ada kerusakan yang lebih parah

D. Pemugaran Candi Borobudur

Pemugaran Candi Borobudur di mulai tanggal 10 Agustus 1973 prasati dimulainya pekerjaan pemugaran Candi Borobudur terletak di sebelah Barat Laut Menghadap ke timur karyawan pemugaran tidak kurang dari 600 orang diantaranya ada tenaga – tenaga muda lulusan SMA dan SIM bangunan yang memang diberikan pendidikan khususnya mengenai teori dan praktek dalam bidang Chemika Arkeologi ( CA ) dan Teknologi Arkeologi ( TA )
Teknologi Arkeologi bertugas membongkar dan memasang batu - batu Candi Borobudur sedangkan Chemika Arkeologi bertugas membersihkan serta memperbaiki batu – batu yang sudah retak dan pecah, pekerjaan – pekerjan di atas bersifat arkeologi semua di tangani oleh badan pemugaran Candi Borobudur, sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis seperti penyediaan transportasi pengadaaan bahan – bahan bangunan di tangani oleh kontraktor ( PT NIDYA KARYA dan THE CONTRUCTION AND DEVELOPMENT CORPORATION OF THE FILIPINE ).
Bagian – bagian Candi Borobudur yang di pugar ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat tingkat dari bawah yang berbentuk bujur sangkar sedangkan kaki Candi Borobudur serta teras I, II, III dan stupa induk ikut di pugar pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di bawah pimpinan DR Soekmono dengan di tandai sebuah batu prasati seberat + 20 Ton.
Prasasti peresmian selesainya pemugaran berada di halaman barat dengan batu yang sangat besar di buatkan dengan dua bagian satu menghadap ke utara satu lagi menghadap ke timur penulisan dalam prasasti tersebut di tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan terampil dari Yogyakarta yang bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur.

E. Bangunan Candi Borobudur

a. Uraian Banguan Candi Borobudur
Candi Borobudur di bangun mengunakan batu Adhesit sebanyak 55.000 M3 bangunan Candi Borobudur berbentuk limas yang berundak – undak dengan tangga naik pada ke – 4 sisinya ( Utara, selatan, Timur Dan Barat ) pada Candi Borobudur tidak ada ruangan di mana orang tak bisa masuk melainkan bisa naik ke atas saja.
Lebar bangunan Candi Borobudur 123 M
Panjang bangunan Candi Borobudur 123 M
Pada sudut yang membelok 113 M
Dan tinggi bangunan Candi Borobudur 30.5 M
Pada kaki yang asli di di tutup oleh batu Adhesit sebanyak 12.750 M3 sebagai selasar undaknya.
Candi Borobudur merupakan tiruan dari kehidupan pada alam semesta yang terbagi ke dalam tiga bagian besar di antaranya :
1. Kamadhatu: Sama dengan alam bawah atau dunia hasrat dalam dunia ini manusia terikat pada hasrat bahkan di kusai oleh hasrat kemauan dan hawa nafsu, Relief – relief ini terdapat pada bagian kaki candi asli yang menggambarkan adegan – adegan Karmawibangga ialah yang melukiskan hukum sebab akibat.
2. Rupadhatu: Sama dengan alam semesta antara dunia rupa dalam hal manusia telah meninggalkan segala urusan keduniawian dan meninggalkan hasrat dan kemauan bagian ini terdapat pada lorong satu sampai lorong empat
3. Arupadhatu: Sama dengan alam atas atau dunia tanpa rupa yaitu tempat para dewa bagian ini terdapat pada teras bundar ingkat I, II, dan III beserta Stupa Induk.
b. Patung
Di dalam bangunan Budha terdapat patung – patung Budha berjumlah 504 buah diantaranya sebagai berikut:
Patung Budha yang terdapat pada relung – relung : 432 Buah
Sedangkan pada teras – teras I, II, III berjumlah : 72 Buah
Jumlah : 504 Buah

Agar lebih jelas susunan – susunan patung Budha pada Budha sebagai berikut:
1. Langkah I Teradapat : 104 Patung Budha
2. Langkah II Terdapat : 104 Patung Budha
3. Langkah III Terdapat : 88 Patung Budha
4. Langkah IV Terdapat : 22 Patung Budha
5. Langkah V Terdapat : 64 Patung Budha
6. Teras Bundar I Terdapat : 32 Patung Budha
7. Teras Bundar II Terdapat : 24 Patung Budha
8. Teras Bundar III Terdapat : 16 Patung Budha
Jumlah : 504 Patung Budha
Sekilas patung Budha itu tampak serupa semuanya namun sesunguhnya ada juga perbedaannya perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu sama lainya adalah dalam sikap tangannyayang di sebut Mudra dan merupakan ciri khas untuk setiap patung sikap tangan patung Budha di Candi Borobudur ada 6 macam hanya saja karena macam oleh karena macam mudra yang di miliki menghadap semua arah (Timur Selatan Barat dan Utara) pada bagian rupadhatu langkah V maupun pada bagian arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama maka jumlah mudra yang pokok ada 5 kelima mudra it adalah Bhumispara – Mudra Wara – Mudra, Dhayana – Mudra, Abhaya – Mudra, Dharma Cakra – Mudra.
c. Patung Singa
Pada Candi Borobudur selain patung Budha juga terdapat patung singa jumlah patung singa seharusnya tidak kurang dari 32 buah akan tetapi bila di hitung sekarang jumlahnya berkurang karena berbagai sebab satu satunya patung singa besar berada pada halaman sisi Barat yang juga menghadap ke barat seolah – olah sedang menjaga bangunan Candi Borobudur yang megah dan anggun.
d. Stupa
- Stupa Induk
Berukuran lebih besar dari stupa – stupa lainya dan terletak di tengah – tengah paling atas yang merupakan mhkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur, garis tengah Stupa induk + 9.90 M puncak yang tertinggi di sebut pinakel / Yasti Cikkara, terletak di atas Padmaganda dan juga trletak di garis Harmika.
- Stupa Berlubang / Terawang
Yang dimaksud stupa berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I, II, III di mana di dalamnya terdapat patung Budha.
Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang seluruhnya 72 Buah, stupa – stupa tersebut berada pada tingkat Arupadhatu
Teras I terdapat 32 Stupa
Teras II terdapat 24 Stupa
Teras III terdapat 16 Stupa
Jumlah 72 Stupa
- Stupa kecil
Stupa kecil berbentuk hampir sama dengan stupa yang lainya hanya saja perbedaannya yang menojol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya, seolah – olah menjadi hiasan bangunan Candi Borobudur keberadaanstupa ini menempati relung – relung pada langkah ke II saampai langkah ke V sedangkan pada langkah I berupa Keben dan sebagian berupa Stupa kecil jumlah stupa kecil ada 1472 Buah.
e. Relief
Relief Karmawibhangga bagian yang terlihat sekarang ini tidaklah sebagaimana bangunan aslinya karena alasan teknis maupun yang lainya maka candi di buatkan batu tambahan sebagai penutup
Relief Karmawibhanga yang terdapat pada bagian Kamadhatu berjumlah 160 buah pigura yang secara jelas menggambarkan tentang hawa nafsu dan kenikmatan serta akibat perbuatan dosa dan juga hukuman yang di terima tetapi ada juga perbuatan baik serta pahalanya.
Yang di perlihatkan pada relief – relief itu antara lain:
- Gambaran mengenai mulut – mulut yang usil orang yang suka mabuk – mabukan perbuatan – perbuatan lain yang mengakibatkan suatu dosa.
- Perbuatan terpuji, gambaran mengenai orang yang suka menolong Ziarah ke tempat suci bermurah hati kepada sesama dan lain – lain yang mengakibatkan orang mendapat ketentraman hidup dan dapat pahala


BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan

Dari semua masalah tentang sejarah brdirinya Candi Borobudur ini ternyata dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Sejarah Candi Borobudur

Waktu didirikannya Candi Borobudur tidaklah dapat diketahui dengan pasti namun suatu perkiraan dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli Candi Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari prasati di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan sekitar tahun 800 M.

2. Letak dan Lokasi Candi Borobudur Candi

Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang yang letaknya sebelah selatan + 15 km sebelah selatan kota Magelang dataran kedu yang berbukit hampir seluruhnya di kelilingi pegunungan, pegunungan yang mengelilingi Candi Borobudur di antaranya di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi Barat, Laut Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

3. Nama Dan Arti Candi Borobudur

Nama Borobudur berasal dari gabungan kata Boro dan Budur, Boro berasal dari kata Sangsekerta berarti “ Vihara” yang berarti komplek Candi dan Bihara atau juga asrama ( Menurut Purwacaraka Dan Stuten Herm ) sedangkan Budur dalam bahasa Bali “ Bedudur” yang artinya di Atas. Jadi nama Borobudur berarti asrama atau bahasa ( Komplek Candi ) yang terletak di atas bukit

B. Saran – Saran

Dari pembuatan karya tulis ini penulis akan menyajikan beberapa saran diantaranya:
1. kita sebagai generasi muda harus menadi generasi penerus bangsa dengan cara giat belajar dan berlatih supaya menjadi siswa – siswi yang terampil dan bertaqwa
2. Kita sebagai warga negara harus menjaga dan melestarikan bdaya bangsa dengan memelihara tempat – tempat bersejarah sebagai peninggalan nenek moyang kita
3. penulis berharap dengan berkembangnya kebudayaan barat di harapkan pada rekan generasi muda mampu memilih dan menilia budaya yang masuk dan berusaha mempertahankan kebudayaan bangsa sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

1. MoerTjipto, Drs Borobudur, Pawon Dan Mendut, Kanisus Yogyakarta 1993
2. Soediman, Drs Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia Gramedia Yogyakarta, 1980
Daftar website
http://www.google.co.id/search?q=makalah+sejarah&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-

makalah banten dan mataram menghadapi VOC belanda

No comments:

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
    Adapun faktor yang mendorong diadakannya ekspedisi bangsa barat yaitu:
Perubahan ekonomi dan social di Eropa mendorong bangsa Eropa menyebar ke berbagai belahan dunia termasuk Indonesia.
a). Perang Salib
Terjadi tahun 1070 karena perebutan kota Jerusalem.
Penyebab perang salib:
1) Keinginan bangsa Eropa untuk membantu Spanyol merebut wilayahnya yang jatuh ke tangan Arab.
2) Semangat bangsa Eropa merebut kota Jerusalem atas dorongan Paus Urbanus II.
3) Keinginan Paus Urbanus II untuk mempersatukan kembali gereja Katolik di bawah Roma.
Perang salib berlangsung dari tahun 1070 – 1291 (221 tahun).
b). Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Ditemukannya kompas sebagai alat petunjuk arah, ditemukan teori bahwa bumi itu bulat, dan peredaran tata surya berpusat pada matahari.
c). Penjelajahan Samudra
Tujuan penjelejahan samudra:
1) Adanya keinginan untuk memiliki kekayaan (gold)

(1)
(2)
2) Adanya keinginan mencari kekuasaan dan kejayaan (gospel)
3) Penyebaran agama Nasrani (glory)
     
          Mahal dan langkanya rempah-rempah di dunia barat, menyebabkan bangsa-bangsa Eropa untuk mencari cara lain demi mendapatkan rempah-rempah sebanyak mungkin. Jalan yang ditempuh bangsa Eropa untuk mendapatkan rempah-rempah adalah dengan mencari daerah yang di wilayah tersebut terdapat rempah-rempah yang berlimpah ruah termasuk Indonesia sendiri.
      Maka di mulailah Ekspedisi bangsa barat yang dipelopori oleh bangsa Portugis dan Spanyol yang kemudian jejak kedua negara ini di ikuti oleh bangsa lain termasuk bangsa Belanda. Dari faktor dan tujuan bangsa barat melakukan ekspedisi, Indonesia menjadi daerah dan wilayah yang sesuai dengan kriteria dilakukannya ekspedisi tersebut termasuk daerah Banten dan Mataram yang pada waktu itu menjadi pusat perdagangan di Nusantara.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Kapan bangsa Belanda pertama kali datang ke daerah Banten? Serta bagaimana sikap masyarakat Banten untuk pertama kalinya atas kedatangan Bangsa Belanda?
2.      Apa yang menyebabkan bangsa Belanda datang ke daerah Banten?
3.       Mengapa tentara Mataram menyerang kantor dagang VOC pada tanggal 18 Agustus 1618?


(3)
1.3  Tujuan
1.      Mengetahui datangnya bangsa Belanda di Banten serta sikap yang diberikan masyarakat pribumi untuk pertama kalinya.
2.      Mengetahui tujuan bangsa Belanda datang ke daerah Banten.
3.      Mengetahui sebab dari penyerangan tentara Mataram terhadap kantor dagang VOC.
1.4  Manfaat
1.      Sebagai sumber informasi dan pengetahuan atas penjajahan dan perjuangan bangsa Indonesia.
2.      Sebagai motivasi untuk melanjutkan perjuangan bangsa di masa sekarang dan selanjutnya dalam bentuk yang berbeda.
3.      Sebagai suatu pengalaman bangsa yang jangan sampai terjadi kembali penjajahan di masa sekarang dan selanjutnya.
1.5  Metode
    Adapun metode yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan buku-buku sumber yang berkaitan dengan kolonialisme yang terjadi di Banten dan Mataram, kemudian mencari informasi dari media cetak maupun media elektronik, semisal koran, televisi, internet dll.
  





BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kedatangan Bangsa Belanda di Banten
Berbeda dari abad sebelumnya, pada abad XIV kekuasaan Kesultanan Turki tidak lagi menguasai sebagian besar Eropa dan Asia Timur. Daerah-daerah itu kini dikuasai negara-negara Kristen terutama Portugis, sehingga Lisabon kembali menjadi pusat perdagangan rempah-rempah di Eropa.Pedagang-pedagang Inggris, Belanda dan sebagainya membeli rempah-rempah dari Lisabon. Apalagi daerah-daerah penghasil rempah-rempah itu hanya diketahui Portugis.
Pengangkutan rempah-rempah dari Lisabon mendatang-kan keuntungan banyak bagi pedagang-pedagang Belanda; yaitu menyalurkannya kembali ke Jerman dan negara-negara lain di Eropa Timur. Tetapi karena pecahnya perang antara Nederland dengan Spanyol pada tahun 1568 yang dikenal dengan “Perang Delapan Puluh Tahun” mengakibatkan perdagangan Belanda di Eropa Selatan menjadi tidak lancar, lebih-lebih sesudah Spanyol berhasil menduduki Portugal pada tahun 1580.
Raja Spanyol, Phillipos II, yang mengetahui bahwa kemakmuran Nederland sebagian besar didapat dari perdagangan di Portugal, memukul Nederland dengan melarang kapal-kapal dagang Belanda mengunjungi bandar-bandar di daerah kekuasaannya. Akibat tindakan itu, perdagangan rempah-rempah Belanda terhenti, kemajuan Lisabon terhambat dan harga rempah-rempah di Eropa menjadi tinggi, karena persediaan berkurang.
(4)
(5)
Situasi perang antara Spanyol dan Belanda itu banyak membuat pedagang-pedagang Belanda mengalami kesukaran, apalagi sering terjadi perampokan kapal-kapal dagangnya oleh pelaut Inggris dan juga penangkapan oleh armada Spanyol. Hal-hal semacam inilah yang mendorong pedagang-pedagang Belanda untuk dapat langsung berhubungan dengan negara-negara di Asia sebagai peng-hasil cengkeh dan lada, tanpa diketahui patroli Spanyol. Gagasan untuk mencari sumber rempah-rempah di Asia itu dilaksanakan melalui persiapan dan perencanaan yang cukup baik. Ahli-ahli ilmu bumi seperti Pancius, seorang pendeta di Amsterdam dan Mercator di Nederland Selatan diserahi menyusun peta dunia dan dimintai pandangan-pandangannya. Ketika itu (1593) terbitlah sebuah buku Itineratio dalam bahasa Belanda karya Jan Huygen van Linschoten yang menceritakan tentang benua Asia dan mengenai Hindia (Indonesia), lengkap dengan adat istiadat, agama, barang dagangan yang disenangi penduduk, dan sebagainya mengenai daerah Asia itu. Pengarang buku ini pernah ikut dalam expedisi Portugis ke Asia dan pernah tinggal beberapa lama di Goa, India.
Untuk menghindari pengejaran tentara Portugis, beberapa pedagang Belanda, dibantu oleh pemerintah, dengan kapal yang dirancang khusus mencoba mengarungi Laut Es, sebelah utara benua Eropa dengan perhitungan akan memperoleh jalan tersingkat menuju Asia, tanpa melalui Tanjung Harapan. Tiga kali percobaan ekspedisi ini dilaksanakan, namun ketiga-tiganya mengalami kegagalan. Kapal mereka terjepit di tengah-tengah lautan es di dekat pulau Nova Zembla, sehingga separoh anak buah kapalnya meninggal karena kedinginan.

(6)
Laksamana Jacob vanHeemskerck yang memimpin pelayaran itu kembali ke Amsterdam dengan susah payah menghabarkan kegagalan ekspedisinya.Akhirnya pedagang-pedagang Amsterdam memper-siapkan empat buah kapal untuk mencari jalan ke Indonesia melalui Tanjung Harapan. Pada tangga 2 April 1595 kapal-kapal tersebut bertolak dari pangkalan Tessel, Belanda Utara, di bawah pimpinan Cornelis de Houtman dan Pieter de Keyser. Cornelis de Houtman mengepalai urusan perdagangan, dan Pieter de Keyser mengepalai urusan navigasi. Karena adanya dua pimpinan dalam satu ekspedisi pertama ini, maka sering terjadi keributan yang berasal dari perbedaan pendapat di antara keduanya. Hal demikian akhirnya menimbulkan perkelahian di antara anak buah kapal, sehingga sebuah kapal hancur dan sebagian penumpangnya tewas. Namun demikian, ekspedisi ini akhirnya membuahkan hasil, yakni dengan keberhasilan mereka mendarat di pelabuhan Banten pada tanggal 23 Juni 1596.
Kedatangan kapal dagang Belanda itu disambut ramah oleh penduduk negeri dan seperti biasanya apabila ada kapal asing merapat, banyak penduduk pribumi yang naik ke kapal untuk menawarkan makanan ataupun dagangan lainnya. Hal ini disalah artikan oleh awak kapal, sehingga mereka bertindak kasar dan angkuh. Walau pun demikian, penduduk negri yang terkenal ramah itu masih menawarkan lada yang memang mereka butuhkan. Bertepatan dengan kedatangan kapal dagang Belanda itu, Banten sedang bersiap-siap untuk mengadakan penyerangan ke Palembang. Oleh karenanya Banten minta orang Belanda itu meminjamkan kapalnya guna pengangkutan prajurit dengan sewa yang memadai.

(7)
Permintaan itu ditolak dengan alasan mereka datang ke Banten hanya untuk berdagang dan setelah selesai akan cepat kembali pulang takut ada kapal Portugis yang datang.
Tapi sampai pasukan Banten kembali dari Palembang, mereka masih tetap belum pergi, karena menunggu panen lada yang tidak lama lagi; waktu panen lada harga akan jauh lebih murah. Alasan demikian membuat Mangkubumi Jayanegara marah. Lebih parah lagi, orang-orang Belanda itu pada suatu malam, menyeret dua buah kapal dari Jawa yang penuh dengan lada ke kapalnya dan memindahkan semua isinya. Dan dengan membawa muatan hasil rampokan itu mereka pergi sambil menembaki kota Banten. Melihat kelakuan orang Belanda ini, rakyat Banten — yang baru saja kehilangan sultannya— sangat marah. Beberapa tentara Banten menyerbu ke kapal Belanda dan menangkap Houtman beserta delapan anak kapal. Dengan tebusan 45.000 gulden sebagai ganti kerugian, barulah de Houtman dilepaskan dan diusir dari Banten (2 Oktober 1596).
Pada tanggal 1 Mei 1598 rombongan baru pedagang Belanda berangkat dari Nederland menuju Indonesia dengan delapan buah kapal yang di pimpin oleh Jacob van Neck dibantu oleh van Waerwijk dan van Heemskerck. Pada tanggal 28 Nopember 1598 rombongan kedua ini tiba di Banten. Mereka diterima baik oleh rakyat Banten karena tingkah lakunya berbeda dengan pendahulunya. Pengalaman pertama yang merugikan itu rupanya dijadikan pelajaran.


(8)
Mereka pandai membawa diri dan sanggup menahan hati bila berhadapan dengan Mangkubumi, bahkan permohonan untuk menghadap Sultan pun dikabulkan. Dengan membawa hadiah sebuah piala berkaki emas sebagai tanda persahabatan, van Neck menghadap kepada Sultan Abdul Mafakhir. Mangkubumi Jayanagara membujuk van Neck untuk membantu tentara Banten dalam penyerangan ke Palembang — sebagai pembalasan atas kematian Sultan Muhammad — dengan imbalan lada sebanyak dua kapal penuh. Semula van Neck menyetujui usul Mangkubumi ini, tapi karena van Neck minta dibayar di muka satu kapal dan sisanya sesudahnya, sedangkan Mangkubumi menghendaki pembayaran sekaligus setelah penyerangan selesai, maka penyerangan ke Palembang tidak diteruskan. Van Neck kembali ke Belanda dengan tiga kapal yang penuh muatan, sedangkan van Waerwijk dan van Heemskerck melanjutkan perjalanannya ke Maluku dengan lima buah kapal.
Dengan keberhasilan dua ekspedisi dagang ke Indonesia ini akhirnya berduyun-duyunlah orang-orang Belanda untuk berdagang. Tercatat pada tahun 1598 saja ada 22 kapal milik perorangan dan perikatan dagang dari Nederland menuju Indonesia. Bahkan tahun 1602 ada 65 kapal yang kembali dari kepulauan Indonesia dengan muatan penuh. Suatu hari datanglah utusan khusus pemerintah Portugis dari Malaka dengan membawa hadiah uang 10.000 rial dan berbagai perhiasan yang bagus dan mahal. Mereka minta supaya Banten memutuskan hubungan dagang dengan Belanda dan apabila orang-orang Belanda itu datang supaya kapal-kapalnya dirusak atau diusir. Dikatakan pula, bahwa nanti akan datang armada Portugis yang akan mengadakan pembersihan terhadap kapal Belanda di perairan Banten dan negeri timur lainnya.
(9)
Mangkubumi Jayanagara menerima semua hadiah tersebut, tapi, secara rahasia, diutusnya kurir untuk menyam-paikan berita itu kepada pedagang Belanda, supaya mereka segera meninggalkan Banten karena armada Portugis akan menyergap mereka. Mendengar berita itu, kapal dagang Belanda pun segera meninggalkan Banten. Tidak lama kemudian pada tahun 1598 sampailah angkatan laut Portugis dipimpim oleh Laurenco de Brito dari pangkalannya di Goa. Setelah dilihatnya tidak ada satu pun kapal Belanda yang berlabuh di Banten, marahlah mereka. Mangkubumi dituduh telah berhianat dan bersekongkol dengan Belanda karena membocorkan rahasia, dan menuntut supaya Mangkubumi mengembalikan semua hadiah yang sudah diberikan. Sudah tentu Mangkubumi tidak mau menuruti kemauan mereka, karena Portugis tidak ada hak dan wewenang untuk mengusir kapal-kapal asing yang sedang berlabuh di Banten. Dengan kemarahan yang amat sangat, diserangnya pelabuhan Banten, barang-barang yang ada di sana dirampas dan diangkut ke kapalnya, bahkan lada kepunyaan pedagang dari Cina pun dirampasnya pula.
Melihat kejadian itu, tentara Banten, yang memang sudah dipersiapkan, menyerang kapal-kapal Portugis itu, sehingga tiga buah kapal Portugis dapat dirampas dan seorang laksamananya tewas; sedangkan yang lainnya melarikan diri, setelah meninggalkan barang hasil rampasannya. Karena persaingan ketat antar sesama pedagang Belanda yang berlomba-lomba untuk mendapat rempah-rempah dari negeri timur, maka keuntungan mereka pun sedikit, dan bahkan rugi — dari data-data yang dikumpulkan, ternyata kerugiannya mencapai 5 laksa gulden. Melihat kenyataan ini maka pada tahun 1602 dibentuknya persatuan dagang yang kemudian diberi nama “Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dengan modal pertama 6,5 juta
(10)
gulden dan berkedudukan di Amsterdam; dan tujuannya adalah mencari laba sebanyak-banyaknya, di samping untuk memperkuat kedudukan Belanda melawan kekuasaan Portugis dan Spanyol.
Berdirinya VOC ini dibantu oleh pemerintah kerajaan Belanda, sehingga VOC diberi hak-hak sebagai berikut :
  • 1)     Hak monopoli untuk berdagang di wilayah antara Amerika dan Afrika.
  • 2)     Dapat membentuk angkatan perang sendiri, mengadakan peperangan, mendirikan benteng dan bahkan menjajah.
  • 3)     Berhak untuk mengangkat pegawai sendiri.
  • 4)     Berhak untuk membuat peradilan sendiri (justisi).
  • 5)     Berhak mencetak dan mengedarkan uang sendiri.
Sebaliknya VOC mempunyai kewajiban yang harus dipenuhi terhadap pemerintah kerajaan Belanda, yaitu :
  • 1)   Bertanggung jawab kepada Staten General (Dewan Perwakilan Rakyat Belanda).
  • 2)   Pada waktu perang harus membantu pemerintah dengan uang dan angkatan perang.
Pembentukan VOC di samping untuk menyatukan langkah dalam perdagangan dan modal, juga didorong dengan adanya saingan baru yang dianggapnya berat, yaitu pedagang-pedagang Inggris yang telah membentuk satu kongsi dagang yang bernama EIC (East India Compagnie) pada tahun 1600. Untuk memudahkan gerak dan siasat
(11)
dagangnya, VOC membuka kantor-kantor cabang di Middelberg, Delft, Rotterdam, Hoorn dan Enkhuizen. Setelah dirasa kedudukan VOC sudah mapan, maka pada tahun 1610 dibuka pula kantor dagang untuk Hindia Timur atau Kepulauan Nusantara, dengan Pieter Both menjadi Gubernur Jendral yang dibantu Dewan Penasehat (Raad van Indie) yang anggotanya terdiri dari 5 orang. Dicarinya daerah-daerah strategis untuk dijadikan pusat kegiatan di Hindia Timur ini. Alternatif pertama dipilihnya Johor, tetapi karena Johor terlalu dekat dengan Malaka yang duduki Portugis, maka dipilihnya alternatif kedua yakni Banten. Walaupun di Banten telah berdiri perwakilan dagang VOC sejak tahun 1603 — yang diketuai oleh Francois Wittert — tapi karena di Banten pun Mangkubumi Arya Ranamanggala selalu bertindak tegas dalam menghadapi orang-orang asing, pilihan ini dibatalkan. Akhirnya VOC menetapkan Jayakarta sebagai pusat kegiatannya, karena walau pun Jayakarta di bawah kuasa Banten, namun penguasa di sana tidak begitu kuat. Maka pada tahun 1610 berangkatlah Pieter Both dari Amsterdam menuju Jayakarta bersama dengan 8 buah kapal besar. Pada bulan Nopember 1611 VOC berhasil mendirikan kantor dagang di Jayakarta. Untuk mengontrol tindakan VOC, Pangeran Jayakarta membolehkan perusahaan dagang Inggris yang tergabung dalam East India Company (EIC) membuat kantor dagangnya di Jayakarta, berhadapan dengan kantor dagang VOC.




(12)
2.2 Kesultanan Banten Pada Masa Sultan Ageng Tirtayasa Dalam Menghadapi Belanda
Penobatan Pangeran Surya terjadi pada tanggal 10 Maret 1651, seperti tanggal surat ucapan selamat Gubernur Kompeni Belanda Kepada Sultan. Untuk memperlancar roda pemerintahan, sultan mengangkat beberapa orang untuk membantu dirinya. Jabatan Patih Mangkubumi diserahkan kepada Pangeran Mandura dengan wakilnya Tubagus Wiraatmaja, Sebagai Kadhi atau Hakim Agung Negara diserahkan kepada Pangeran JayaSentika. Tapi Pangeran Jayasentika tidak lama menjabat sebagai kadhi, beliau wafat dalam perjalanan menunaikan ibadah haji, maka jabatan Kadhi diserahkan kepada Entol Kawista yang kemudian dikenal dengan nama Faqih Najmudin. Faqih Najmudin adalah menantu dari Sultan Abul Mafakhir yang menikah dengan Ratu Lor. Untuk mempermudah pengawasan daerah kekuasaan, Sultan mengangkat beberapa Ponggawa atau Nayaka. Mereka berada di bawah pengawasan dan tanggung jawab Mangkubumi. Selain itu Mangkubumi juga mengawasi keadaan para prajurit kerajaan. Senjata-senjata di tambah. Rumah para Senoptai diatur sedemikian rupa, agar mudah mengontrol para prajurit.Pangeran Surya yang kemudian bergelar Pangeran Ratu Ing Banten adalah seorang ahli strategi perang. Hal ini sudah dibuktikannya sejak beliau menjadi putera mahkota. beliau lah yang mengatur strategi perang gerilya saat menyerbu belanda di Batavia.
Seperti juga kakeknya, Pangeran Surya pun tidak melepaskan dari Kekhalifahan Islam di Makkah. hubungan ini keharusan untuk memperkuat kekuatan umat Islam dalam menentang segala macam kesewenangan. Dari dari Kekhalifahan pulalah Pangeran mendapatkan gelar Sultan 'Abulfath Abdulfattah. Dari hubungan ini
(13)
Sultan mengharapkan bantuan dari Khalifah untuk mengirimkan guru agama ke Banten. Selain itu Sultan pun tidak setuju dengan pendudukan bangsa Asing atas negaranya, dan untuk memperkuat pertahanan (terutama dari serbuan Belanda di Batavia), sultan memperkuat pasukanya di Tangerang yang telah menjadi benteng pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan Belanda. Dari tangerang ini pulalah pada tahun 1652 Banten menyerbu Batavia. Melihat situasi yang semakin memanas, pihak kompeni mengajukan usul perdamaian. Namun sultan bertekad untuk menghapuskan para penjajah di bumi Nusantara, sultan melihat berbagai kecurangan pada setiap perjanjian yang diajukan oleh pihak Belanda, sehingga Sultan pun menolaknya. Pada tahun 1656 pasukan Banten yang bermarkas di Angke dan Tangerang melakukan gerilya besar-besaran. Perusakan dan sabotase yang dilakukan para prajurit Banten banyak merugikan pihak Kompeni. Untuk menghadapi serangan Belanda yang lebih besar, Sultan mempernaiki hubungan dengan Cirebon dana Mataram, bahkan dari Inggris, Prancis dan Denmark, Sultan mendapat kemudahan memperoleh senjata api untuk peperangan. Daerah kekuasaan Banten (Lampung, Bangka, Solebar, Indragiri dan daerah lainnya) diminta mengirimkan prajuritnya untuk bergabung dengan para prajurit yang berada di Surosowan. Rakyatpun mendukung langkah Sultan untuk mengusir Penjajah. Mereka bertekad lebih baik mati daripada berdamai dnegan penjajah. Sedangkan kompeni mempekuat pasukkannya dengan prajurit-prajurit sewaan yang berasal dari Kalasi, ternate, Bandan, kejawan, Melayu, Bali, Makasar dan Bugis.


(14)
Pada tanggal 29 April 1658 datang utusan Belanda ke Banten membawa surat dari Gubernur Jendral Kompeni yang berisi rancangan perjanjian perdamaian, namun Sultan kembali melihat kecurangan dibalik naskah perjanjian tersebut, pihak kompeni hanya mengharapkan keuntungan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan rakyat Banten. Oleh karenanya pada tanggal 4 Mei 1658 Sultan mengirimkan utusan ke Batavia untuk melakukan perubahan perjanjian. Namun perubahan dari Sultan di tiolak oleh Belanda. Kompeni hanya menginginkan Banten membeli rempah-rempah dari Belanda dan itupun harus ditambah pajak. Penolakan tersebut membuat Sultan sadar, bahwa tidaklah mungkin ada persesuaian pendapat antara dua musuh yang saling berbeda kepentingan. Maka pada tanggal 11 Mei 1658 Sultan mengirim surat balasan yang menyatakan bahwa "BANTEN dan KOMPENI TIDAK AKAN MUNGKIN BISA BERDAMAI .Maka terjadilah pertempuran hebat di darat dan di laut. Pertempuran ini berlangsung tanpa henti sejak bulan Juli 1658 hingga tanggal 10 juli 1659.
Selain di Tangerang, Sultan juga membuat kampung para prajurit di Tirtayasa, bahkan akhirnya sultan pun menyuruh mendirikan istana di kampung tersebut. Yang nantinya digunakan sebagai pusat kontrol kegiatan di Tangerang dan Batavia disamping untuk tempat peristirahatan. Maka dengan demikian Tirtayasa dijadikan penghubung antara Istana di Surosowan dengan Benteng pertahanan di Tangerang. Hal ini akan mempersingat jalur komunikasi sultan. Disamping jalan darat yang sudah ada, juga dibuat jalan laut yang menghubungkan Surosowan-Tirtayasa-Tangerang. Maka dibuatlah saluran tembus dari Pontang-Tanara-Sungai Untung Jawa menyusuri jalan darat - melalaui sungai CIkande sampai pantai Pasiliyan. Saluran ini dibuat
(15)
cukup besar, hingga mampu dilewati kapal perang ukuran sedang. Saluran ini dibuat dari tahun 1660 hingga sekitar tahun 1678. Selain di Tirtayasa Sultan pun berusaha menyempurnakan dan memperbaiki keadaan didalam ibukota kerajaan. Dengan bantuan beberapa ahli bangunan dari Portugis dan Belanda yang sudah masuk Islam, diantaranya adalah Hendrik Lucasz Cardeel kemudian dikenal dengan Pangeran Wiraguna diperbaikilah bangunan istana Surosowan. Benteng istana diperkuat dengan diberi Bastion, disetiap penjuur mata angin dan dilengkapi dengan 66 buah meriam yang diarahkan ke segala penjuru.
Kekhawatiran ini membuat Sultan Haji bersedia mengadakan perjanjian dengan Belanda yang intinya adalah persekongkolan merebut kekuasaan dari tangan Sultan Ageng Tirtayasa. Tahun 1681, Sultan Haji mengkudeta ayahnya dari tahta kesultanan. Sementara itu, Sultan Ageng setelah penggulingan kekuasaan tersebut, tidak lantas berdiam diri. Beliau langsung menyusun kekuatan bersenjata guna mengepung Sultan Haji di Sorosowan (Banten). Karena terus terdesak, akhirnya Sultan Haji meminta bantuan Belanda. Kaum imperialis ini segera mengirimkan ribuan tentara ke Banten untuk melepaskan Sultan Haji. Dipimpin Kapiten Tack dan de Saint Martin, Belanda juga menyerang benteng Tirtayasa dan dapat menaklukkannya meski menderita kerugian besar. Akan tetapi sebelum Belanda memasuki benteng tersebut, Sultan Ageng Tirtayasa sempat terlebih dulu membakar seluruh isi benteng dan lantas melarikan diri bersama Pangeran Purbaya dan pengikutnya. Walau pertahanan terakhir Sultan Ageng sudah jatuh, namun Belanda tidak otomatis dapat memadamkan perlawanan rakyat Banten. Sultan Ageng masih mengadakan perjuangan secara gerilya. Akan tetapi, lama kelamaan Belanda dapat
(16)
mendesak mereka ke wilayah selatan. Hingga kemudian di tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap melalui tipu muslihat Belanda dan Sultan Haji. Beliau akhirnya dipenjarakan di Batavia sampai meninggalnya      pada            tahun   1692.

2.3 Mataram Menghadapi Belanda
Pendiri dinasti Kerajaam Mataram Islam pertama adalah Sutowijoyo. Karena atas jasanya dalam mengatasi konflik yang terjadi di kerajaan Islam Demak, beliau diberi hadiah tanah di Mataram Yogyakarta oleh Joko Tingkir. Kerajaan Mataram sendiri mencapai puncak kejayaan pada pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokesumo. Sultan Agung (nama yang masyhur) sangat menentang dan memusuhi Kompeni Belanda (VOC). Ia merupakan raja ketiga dari Mataram. Ia memerintah tahun 1613 sampai tahun 1645. Pada waktu itu kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat. Selanjutnya wilayah tersebut dibagi menjadi beberapa daerah. Urutannya Istana negara berada di Keraton sebagai pusat pemerintahan. Selanjutnya wilayah yang mengintari ibukota disebut Kutanegara, dengan beberapa pimpinan Birokrat. Seperti Senopati, Demang dan sebagainya. Setelah Sultan Agung wafat, tidak ada lagi raja Mataram yang seperti beliau. Bahkan putranya Susuhunan Amangkurat I (1645 sampai 1677) justru bersekutu dengan Kompeni Belanda. Demikian juga putra Amangkurat I yaitu Susuhunan Amangkurat II juga bersekutu dengan Kompeni Belanda. Raden Mas yang menjadi Susuhunan Amangkurat III mencoba untuk melawan Kompeni Belanda, tapi akhirnya ia disingkirkan juga oleh Kompeni Belanda.
Akhirnya kerajaan Mataram diberikan kepada Pangeran Puger (ayah dari pangeran
(17)
Mangkubumi). Pangeran Puger inilah yang bergelar Susuhunan Pakubuwana I. Pakubuwana I (PB I) juga berkerja sama dengan Kompeni Belanda. Akibat dari kerjasama ini, berangsur-angsur wilayah Mataram semakin menyempit. Sebabnya adalah wilayah tersebut diambil oleh VOC, atas imbalan atas jasa-jasanya yang menyelesaikan pemberontakan-pemberontakan intern di Mataram. Seperti Pemberontakan Trunojoyo yang berakhir tahun 1678. Akibatnya Mataram harus melepaskan daerah Karawang, Semarang dan sebagian daerah Priangan.
Bantuan pemadaman pemberontakan terhadap Untung Suropati yang berakhir tahun 1705. Mataram juga melepaskan kembali daerah Cirebon, sisa daerah Priangan dan separoh bagian timur Madura kepada VOC Belanda. Selanjutnya Perang China berakhir tahun 1743, juga tidak lepas dari bantuan VOC Belanda. Seluruh daerah pantai utara jawa dan seluruh pulau Madura menjadi milik VOC Belanda.
Wilayah Mataram semakin sempit dengan berakhirnya perjanjian Giyanti pada tahun 1755, dimana Mataram dipecah menjadi dua bagian, yaitu Kasunanan Suarkarta dan Kasultanan Yogyakarta. Selanjutnya pada tahun 1757 dan 1813 wilayah tersebut pecah lagi dengan munculnya Mangkunegaran dan Pakualaman. Perpecahan Mataram Islam menjadi beberapa wilayah (karisidenan) kecil tidak terlepas dari pengaruh VOC Belanda.
A.Perjanjian  GiyantiKetika kerajaan Mataram berada di Keraton Kartasura, terjadi pemberontakan oleh Mas garendi (Sunan Kuning). Alasannya karean ia mendesak Pakubuwana II (anak dari Pangeran Puger) yang berkuasa tahun 1726 sampai 1749, agar tidak berkerja sama dengan Kompeni Belanda. Kebijakannya diantaranya, Belanda diizinkan untuk
(18)
membuat Benteng-benteng di Karatasura. Begitu juga pemberontakan dilakukan oleh Pangeran Sambernyowo (R.M. Said), karena daerah Sukowati yang diberikan pada ayahnya di cabut pada tahun 1742.
Akibat dari pemberontakan tersebut, akhirnya Pakubuwana II lari ke Ponorogo untuk meminta bantuan kepada Bupati Ponorogo dan kompeni Belanda. Atas bantuan Mayor Baron Van Hanendrof dan Adipati Bagus Suroto (Ponorogo), akhirnya pemberontakan dapat dipadamkan. Karena keadaan keraton Kartasura yang hancur, maka PB II mengutus Tumenggung Tirtowijoyo dan Pangeran Wijil untuk mencari tempat baru. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya pada tahun 1745, Sala dipilih sebagai tempat baru kerajaan dan berubah nama menjadi “Surakarta Hardiningrat”.
Campur tangan Belanda dalam setiap urusan di Mataram Surakarta membuat bangsawan kerajaan Surakarta pecah menjadi dua kelompok yaitu setuju dengan Belanda. Dan yang tidak setuju dengan Belanda. Yang tidak setuju termasuk adalah R. M Said (Pangeran Sambernyowo). Ia sering kali mendatangi tangsi-tangsi Belanda dan Merebut senjata mereka. Belanda dibuat pusing dengan pemberontakan tersebut dan Belanda menghadap PB II untuk meminta bantuan. Akhirnya PB II memberikan sayembara, siapa yang dapat mengatasi pemberontakan tersebut, maka akan di beri hadiah sebidang tanah di Surakarta (Mataram). Kemungkinan itu juga tidak lepas dari desakan Kompeni Belanda. Pangeran Mangkubumi (adik PB II; dan menjabat sebagai penasehat raja Mataram) menyanggupi untuk memadamkan pemberontakan Pangeran Sambernyowo
          tersebut.
Selain Raden Said, ada juga Ki Martapura (bekas Bupati Grobogan) yang bergabung dengan Raden Said untuk melawan Kompeni Belanda. Sebenarnya Pangeran Mangkubumi juga tidak suka terhadap Belanda. Akhirnya ia berbalik arah, yaitu
(19)
dengan bergabung dengan Raden Said yang sudah selama sembilan tahun (1743-1752) melawan Kompeni Belanda. Pangeran Mangkubumi mengkabarkan ke Keraton bahwa pemberontakan sudah dipadamkan. Alangkah terkejutnya Pangeran Mangkubumi ketika diadakan Paseban Agung (upacara besar) yang dihadiri oleh segenap pembantu PB II dan pejabat Kompeni Belanda. Dalam acara tersebut Kompeni Belanda mengusulkan agar sebidang tanah tersebut diberikan kepada patih mataram bukan penasehat raja (Pangeran Mangkubumi).
Atas usul tersebut PB II bingung dan meminta pengertian dari adiknya (Pangeran Mangkubumi) untuk bisa menerima. Pangeran Mangkubumi meminta restu kepada PB II, bahwa ia akan mengusir Kompeni Belanda dari bumi Mataram. Mulai sejak itu Pangeran Mangkubumi menghimpun kekuatan dengan mendirikan Pasenggerahan di Sukowati. Selain itu juga ia bergabung denga rakyat Mataram di sebelah barat dan dengan Raden Said. Akhirnya Pemberotakan yang sudah direncanakan matang terjadi, pihak Kompeni Belanda dan Mataram mengalami kekalahan.
Akhirnya Belanda mengangkat topi dan memenuhi janjinya yaitu menyerahkan sebagian wilayah Mataram kepada yang dapat memadamkan pemberontakan (Pangeran Mangkubumi). Diadakan di Giyanti, pada tanggal 13 Februari tahun 1755, diadakan suatu perundingan perdamaian (Perjanjian Giyanti). Intinya Mataram di bagi menjadi dua. Wilayah sebelah timur disebut Kasunanan Surakarta dengan Pakubuwana II sebagai raja dan wilayah Barat disebut Kasultanan Yogyakarta dengan Pangeran Mangkubumi sebagai raja yang bergelar Hamengku Buwono I (HB I).
Setelah diadakan perjajian Giyanti, Pangeran Mangkubumi menghentikan pemberontakannya. Kemudian hidup tentram tanpa gangguan Belanda. Sedangkan Raden Said tetap melakukan pemberontakan terhadap Kompeni Belanda di Surakarta.
(20)
B.Perjanjian  SalatigaWilayah Mataram sudah dibagi menjadi dua, dan Pangeran Mangkubumi sudah mengakhiri pemberotakannya. Namun tidak begitu dengan Raden Said (Pangeran Sambernyowo; 1725-1795), ia tetap melanjutkan pemberontakannya terhadap Belanda di Surakarta. Raden Said sangat membenci terhadap Kompeni Belanda dan menginginkan adanya persamaan hak dan kewajiban rakyat Mataram. Sejak kecil ia sudah membenci Kompeni belanda. Pada umur 16 tahun ia sudah memberontak bersama Sunan Kuning terhadap belanda. Tepatnya pada 30 Juni 1742.
Dengan adanya perjanjian Giyanti sebenarnya ditentang oleh Raden Said, karena hal tersebut adalah rekayasa Kompeni Belanda untuk memecah mataram. Setelah Pangeran Mangkubumi sudah menjadi Raja Yogyakarta, Raden Said berjuang sendirian memimpin pasukan melawan dua kerajaan yaitu, Pakubuwono III & Hamengkubuwono I (yaitu P. Mangkubumi, yang dianggapnya berkhianat dan dirajakan oleh VOC), padahal Pangeran Mangkubumi dulunya adalah temannya dalam melawan Kompeni Belanda, serta perlawanan pasukan Kumpeni (VOC), pada tahun 1752-1757. Selama kurun waktu 16 tahun, pasukan Raden Said melakukan pertempuran
     sebanyak         250            kali.
Karena pemberontakan yang dilakukan terus menerus, akhirnya terjadilah perdamaian dengan Sunan Paku Buwono III. Dengan ditanda tanganinya Perjanjian Salatiga, pada17 Maret 1757 di Salatiga. Isinya adalah untuk menetapkan wilayah kekuasaan Mangkoenagoro.


(21)
Perjanjian ini memberi Pangeran Sambernyawa separuh wilayah Surakarta (4000 karya, mencakup daerah yang sekarang adalah Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Karanganyar, dan sedikit wilayah di Yogyakarta).

Dalam perjanjian yang hanya melibatkan Sunan Paku Buwono III, dan saksi utusan Sultan Hamengku Buwono I (Patih Danurejo) dan Kumpeni Belanda, juga disepakati bahwa, Raden Said (pangeran sambernyowo) diangkat menjadi Mangkoenagoro I dan menjadi penguasa kadipaten Mangkunegaran. Mangkunegoro hanya sebagai Adipati Miji (alias mandiri) dan tidak menyandang gelar Sunan atau sultan. Walaupun sebagai Adipati mijil, kedudukan hukum mengenai Mangkunagoro I, tidaklah sama dengan Kasunanan          surakarta.C.Pecahnya    YogyakartaKetika Jendral Deandles memerintah di Jawa (1808-1811), ia mengirimkan utusan ke Yogyakarta. Tapi utusan tersebut ditolak oleh Hamengkubuono II (HB II). Karena sejak awal kebijakan Deandles mengenai upacara penerimaan Residen di Istana Surakarta dan Yogyakarta. Menurut perturan tersebut Residen di kerajaan harus diberi penghormatan dan menempatkan sejajar dengan raja-raja. Berarti raja diturunkan martabatnya, dari raja yang merdeka menjadi raja bawahan.
Di Istana Surakarta usul tersebut di terima, namun tidak begitu di Yogyakarta. HB II menentang peraturan ini. Karena menentang peraturan ini, maka pada tahun 1810, HB II diturunkan jabatannya dan bergelar “Sultan Sepuh”. Tetapi tetap boleh tinggal di Istana. Sebagai gantinya diangkat putra mahkotanya menjadi Hamengku Buwono III (Sultan Rojo; berkuasa tahun 1810-1811). Dalam masa pemerintahan HB III keadaan
(22)
pemerintah semakin mundur dan menguntungkan Belanda. Sultan Sepuh sangat merasakan hal ini, dan ia ingin mengambil tahta kembali tanpa adanya keruntuhan pemerintahan. Peristiwa ini juga memberi kesempatan kepada Deandles untuk memaksa Yogyakarta dan Surakarta untuk menerima peraturan tersebut pada tahun 1811, yang menyebabkan keduanya kehilangan sebagian wilayahnya.
Karena kebijakan Deandles yang terlalu kejam, diantaranya pembangunan jalan dari Panarukan sampai Anyer sepanjang 1000 km dan penyempitan wilayah kerajaan-kerajaan. Sebagian raja-raja jawa (termasuk sultan sepuh) secara diam-diam menjalin hubungan dengan Inggris yang pada saat itu berada di India untuk berdagang dengan bandar dagang bernama EIC (East Indian Company). Pada waktu yang bersamaan tahun 1810, kekuasaan Louis Napoleon dicabut kembali oleh Napoleon Bonaparte (Prancis). Jadi Belanda di bawah kekuasaan Prancis Karena prancis terlibat konflik dengan Inggris (setelah revolusi Prancis, seluruh Eropa terkena pengaruh Prancis kecuali Inggris), maka Prancis mengirimkan Gubernur Jendral Jansens ke Jawa untuk mempertahankan tanah jawa. Sementara itu Deandles dipanggil ke Belanda pada tahun
    1811.
Karena kekalahan Prancis dalam perang melawan Inggris di Eropa. Gilirannya Inggris datang ke Hindia Belanda. Dengan ditanda tangani Kapitulasi Tuntang yaitu perjanjian penyerahan kekuasaan di Nusantara atau Indonesia dari pemerintah Hindia-Belanda kepada Pemerintah Britania-Raya pada tahun 1811 di sebuah desa yang bernama Tuntang, sekarang berada dibawah kecamatan Tuntang, kabupaten Semarang. Tempat ini dipilih karena merupakan tempat peristirahatan para pembesar Hindia-Belanda, terletak di tepi danau Rawa Pening dan mengalir sungai Tuntang yang bermuara ke Laut Jawa di Demak.
(23)
Waktu itu Belanda sedang diduduki oleh Perancis yang di bawah Jendral Jansens..
Sejak Ingris berkuasa di Hindia Belanda (Indonesia) tahun 1811,dengan Thomas Stamford Raffles sebagai Gubernur Jendral. HB II bisa naik tahta kembali, walaupun hanya satu tahun. Ternyata Inggris tidak jauh beda dengan bangsa Eropa lainnya. Karena kebijakan sistem sewa tanah yang memberatkan rakyat Mataram Khususnya. Pada tahun 1812, HB II mengajak Kasunanan untuk mengadakan perlawanan terhadap Inggris. Melalui Pangeran Notokusumo (saudara HB II) Raffles bisa lebih mengetahui gerak gerik HB II. Setelah mengetahui rencana Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, akhirnya Ingris mengambil jalan kekerasan dengan menyerbu Yogyakarta. Dan menurunkan jabatan HB II. Peristiwa ini berhasil memaksa Sultan dan Sunan untuk menandatangani perjanjian baru pada tanggal 1 Agustus 1812. Isinya antara lain, Kedu, sebagian dari Semarang, Rembang dan Surabaya menjadi milik Inggris. Setelah itu HB II atau Sultan Sepuh ditangkap pada tahun 1812 dan diasingkan ke Pulau Pinang.
Kemudian Raffles mengangkat Putra Mahkotanya menjadi Hamengku Buwono III (berkuasa untuk kedua kalinya tahun.1810-1814) dan dipaksa untuk memberikan sebagian wilayahnya kepada Pangeran Notokusumo sebagai tanda jasa Raffles kepadanya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1813. Seperti Surakarta, Yogyakarta juga dibagi menjadi dua. Yaitu Kasultanan Yogyakarta dengan HB III sebagai Raja, dan Pakualaman dengan Pangeran Notokusumo sebagai raja dengan gelar “Kanjeng Gusti Pakualaman I”. karena jasanya, Inggris juga membantu pembangunan Istana dan tiap bulan memberikan bantuan kepada pakualaman.

(24)
D.Perang        DiponegoroSetelah dilakukan perjanjian antara Belanda dan Inggris dalam konversi London tahun 1814. Daerah jajahan Hindia Belanda (Indonesia) dikembalikan pada Belanda, bukan Prancis. Untuk mengurusi daerah jajahan tersebut dikirim komisi jendral yang terdiri dari Van der Capellen, Elout dan Buyskes. Ketika Pulau Jawa dikembalikan pada Belanda, raja-raja Jawa berharap bisa memulihkan keadaan Kerajaan. Tetapi ternyata Belanda memperrbarui kebijakan-kebijakan yang dilakukan Inggris.
Puncaknya di Yogyakarta, terjadi peperangan yang besar yaitu perang diponegoro (Perang Jawa) yang terjadi tahun 1825 sampai tahun1830. Disebut Perang Jawa, karena peperangan ini melanda hampir di seluruh Jawa. Peperangan ini dipimpin oleh Pangeran Diponegoro (putra mahkota Pangeran Adipati Anom). Penyebab perang adalah kerena Belanda selalu ikut campur permasalahan di Mataram. Perang ini merupakan puncak kebencian kerajaan sejak awal kedatangan Belanda di Jawa Tengah, yang menyebabkan kemerosotan di Mataram. Wilayah Mataram makin sempit karena banyak dianeksi oleh Belanda sebagai imbalan atas bantuannya.
Selain itu juga penyebabnya adalah terjadinya pembagian Mataram menjadi empat wilayah yaitu, Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran dan Paku Alaman. Dan penderitaan rakyat yang semakin berat, dengan adanya kerja Rodi dan pajak tanah. Selain sebab-sebab tersebut, terdapat sebab khusus mengapa Pangeran Diponegoro melakukan peperangan. Yaitu adanya proyek pembuatan jalan yang melalui makam makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegal Rejo. Patih Danuharjo (kaki tangan Belanda) memerintah pemasangan patok-patok di jalur itu. Pangeran Diponegoro memerintah untuk mencabutnya, tetapi di pasang kembali. Hal tersebut terjadi berulang kali, sehingga patok-patok tersebut diganti dengan tombak oleh Pangeran
(25)
Diponegoro untuk berperang melawan Belanda.
Dalam peperangan tersebut Pangeran Diponegoro tidak sendirian. Selain dengan pasukannya, beliau juga dibantu oleh Pangeran Mangkubumi, Sentot Alibasa Prawiradiraja, dan Kiayi Mojo dari Surakarta. Kiayi Mojo berhasil mengobarkan jihad di daerah Yogyakarta, Surakarta, Bagelen dan sekitarnya. Tahun 1826, Pangeran Diponegoro memperoleh kemenangan gemilang di Ngalengkong. Kemenangan ini merupakan kemenangan terbesar dalam peperangan Gerilya (bawah tanah) yang dilakukan Pangeran Diponegoro. Rakyat menobatkan Pangeran Diponegoro dengan gelar “Sultan Abdul Hamid Herutjokro Amirulmukminin Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa”. Penobatan ini dilakukan di desa Dekso.
Selain kemenangan gemilang, dalam perang gerilya selanjutnya terjadi konflik intrnal antara Pangeran Diponegoro dengan Kiayi Mojo. Yaitu mengenai permasalahan pemerintahan dan keagamaan. Dalam perselisihan tersebut Kiayi Mojo berpendapat bahwa kedua masalah tersebut harus dipegang secara terpisah, bukan dipegang oleh satu tangan. Seperti pendapat Pangeran Diponegoro. Perbedaan pendapat tersebut terjadi karena usulan perang terbuka yang diusulkan Kiayi Mojo tidak diterima oleh Pangeran Diponegoro.
Tidak hanya dengan Kiayi Mojo. Sentot Alibasa juga meninggalkan pangeran Diponegoro. Alasannya karena Sentot alibasa mengingginkan perang terbuka, bukan perang gerilya. 1829 merupakan tahun yang kritis bagi Pangeran Diponegoro. Kerena satu demi satu pengikutnya mulai meninggalkannya. Anehnya Sentot Alibasa menyerah kepada Belanda dengan berbagai syarat diantaranya pemberian pinjaman sebesar 10.000 Ringgit, diberikan senapan dan tetap memeluk Islam. Hal tersebut disambut gembira oleh belanda.
(26)
Sentot diangkat menjadi Letnan Kolonel dan langsung dibawah pimpinan Jendral De Kock.Setelah kehilangan para pengikutnya, perang gerilya yang dilakukannya selama ini agak menjadi lemah. Hingga pada akhirnya pada bulan februari tahun 1830 terjadi perundiang antara Belanda dan Pangeran Diponegoro. Dari pihak Belanda diwakili oleh Jendral De Kock. Dalam perundinga tersebut Pangeran diponegoro meminta agar berdirinya negara yang merdeka dibawah pimpinan Sultan dan juga ingin menjadi Amirulmukminin diseluruh tanah jawa. Melihat sikap beliau yang teguh, Belanda tidak   dapat   memenuhi        permintaannya.
Kemudian Pangeran diponegoro ditangkap dan ditawan di Batavia, kemudian dipindahkan ke Menado. Selanjutnya dipindahkan ke Makasar di Benteng Rotterdam. Dengan ditangkapnya Pangeran diponegoro, maka berakhirlah perang Jawa. Dalam perang ini belanda banyak sekali mengeluarkan biaya untuk peperangan. Tidak hanya itu, pada waktu yang bersamaan Belanda juga menghadapi “Perang Paderi” di sumatra Barat. Belanda mengakui Perang Diponegoro merupakan perang yang paling berat yang pernah dihadapi. Pangeran Diponegoro meninggal di Makasar tanggal 8 Januari 1855.







BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Betapa besar pengorbanan para pahlawan kita yang telah gigih mempertahankan daerahnya dari bangsa penjajah walaupun harus mengorbankan harta maupun nyawa sekalipun. Kemudian yang harus kita garis bawahi adalah betapa sadisnya penjajahan yang terjadi membuat penderitaan yang sangat mendalam bagi bangsa ini. Jadi, kita selaku generasi pada masa sekarang adalah dengan melanjutkan perjuangan bangsa dan memperjuangkan akan dihapuskannya penjajahan dalam bentuk apapun.

3.2 Saran
            Mungkin dalam pembuatan makalah yang kami buat banyak kekurangan dan kesalahan, maka dari itu penulis bersedia menerima saran maupun kritik demi perbaikan selanjutnya.








(27)
DAFTAR PUSTAKA


Kartodirdjo, Sartono 1987 Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Dari Emporium sampai Imperium, Gramedia, Jakarta.

Tjandrasasmita, Uka (ed.) 1977 Sejarah Nasional IndonesiaII, Balai Pustaka, Jakarta

Ricklefs, M.C 2005 Sejarah IndonesiaModern, Gadjah MadaUniversity Press, Yogyakarta.
Http://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Salatiga.
Nugroho, Notosusanto.dkk.1993.Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta; Balai Pustaka


Sartono, Kartodirjo. 1998. Dari Imperium sampai Emporium Jilid II. Jakarta: Gramedia


Wayan, Badrika. 1999. Sejarah Nasional dan Umum Jilid 2. Jakarta; Erlangga






Cara Mengatasi HP Terkena Atau Masuk Air

No comments:
HP masuk air

Mungkin beberapa dari anda pernah mengalami hal seperti HP anda terjatuh ke dalam ember yang berisi air atau terjatuh pada bak mandi yang berisi air, memang hal pertama yang muncul dari pikiran anda adalah bagaimana jika HP-nya rusak, tetapi anda tidak perlu khawatir dan was-was jika HP anda terkena air, karena caraguntur.blogspot.com mempunyai Cara Mengatasi HP Terkena Air.  Berikut adalah langkah – langkah mengatasi HP terkena air :

  1. Setelah HP anda terkena atau masuk air, anda harus cepat mengeluarkan baterai HP dan SIM card, jangan menghidupkan terlebih dahulu HP anda jika anda menghidupkan maka hal ini dapat menbuat HP anda rusak karena air dalam HP belum sepenuhnya kering. 
  2. Keringkan Terlebih Dahulu Air Pada HP-nya, dalam mengeringkan anda dapat menggunakan kipas angin atau di jemur pada sinar matahari, jika terlalu lama air mengendap dalam HP anda maka dapat menimbulkan karat dan memungkinkan HP anda sudah tidak bisa digunakan lagi. 
  3. Bersihkan air dari semua sisi pada HP terutama pada bagian tempat Baterai dengan tisu atau kain yang dapat menyerap air dengan cepat, hindari menekan layar karena dapat menyebabkan pixel layar mati. 
  4. Anda juga dapat menggunakan kaleng kedap air dan semprotkan udara kebagian-bagian yang masih basah sampai HP anda benar-benar kering. 
  5. Beras juga dapat dimanfaatkan untuk menyerap kelembaban pada HP dengan cara HP anda dimasukan pada tumpukan beras selama semalam. 
  6. Lalu bersihkan debu-debu beras dalam HP dengan semprotan, setelah itu masukan dan pasang Baterai lalu hidupkan HP anda.
  7. Jika cara diatas tidak mempunyai hasil, maka masukan HP anda dalam freezer dalam keadaan tanpa SIM dan Baterai, caranya bungkas HP anda dengan beberapa lembar tisu toilet dalam waktu 30 menitan, lalu hidupkan kembali HP anda, jika cara tersebut gagal lagi, kemungkinan besar anda kurang cepat dalam mengatasi HP yang terkena air dan solusi satu-satunya adalah anda harus membeli HP baru.

Sekian Cara Mengatasi HP Terkena Atau Masuk Air, semoga dapat bermanfaat bagi anda, terimakasih telah mengunjungi caraguntur.blogspot.com dan jangan lupa selalu stay on this blog , thank you ..

MAKALAH “PENGARUH V.O.C TERHADAP PEREKONOMIAN BANGSA INDONESIA”

No comments:

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kedatangan bangsa Belanda di Indonesia pada pertama kalinya adalah semata-mata untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. jadi hal ini sebenarnya tujuan bangsa Portugis lebih luas  rempah-rempah dan berbahaya daripada Belanda karena disamping mencari keuntungan juga didasarkan pada motif agama yaitu untuk meneruskan perjuangan melawan agama Islam dan menyiarkan agamanya (Kristen) serta sudah tentu tidak ketinggalan untuk memperoleh kejayaaan atau mengharumkan tanah airnya (gold, gospel, glory). Seperti kita ketahui pada tahun 1580 Portugal ditaklukan oleh Spanyol sedangkan negara tersebut belakangan ini sedang terlibat dalam peperangan melawan Belanda. Maka disebabkan oleh peristiwa itulah Bangsa Belanda tergerak hatinya untuk mencari sendiri jalan ke Indonesia, sehingga dapat melanjutkan kehidupan dengan cara berdagang langsung antara sumber rempah-rempah dengan negara-negara Eropa yang sangat membutuhkankannya. Semula mereka hanya berperan sebagai penghubung atau pedagang antara Lissabon dengan negara-negara Eropa Timur dan Utara.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Sistem Monopoli perdagangan yang di jalankan VOC pada saat berkuasa di Nusantara ?
2.      Bagaimana peranan rakyat Maluku dalam menghadapi system monopoli VOC pada saat itu ?
3.      Bagaimana kehidupan ekonomi rakyat Jawa pada masa VOC berkuasa?

1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui Sistem Monopoli perdagangan yang di jalankan VOC pada saat berkuasa di Nusantara.
2.      Untuk mengetahui peranan rakyat Maluku dalam menghadapi system monopoli VOC.
3.      Untuk mengetahui kehidupan ekonomi rakyat Jawa pada masa VOC berkuasa.


1.4   Manfaat
1.         Sebagai sumber informasi dan pengetahuan atas berkuasanya VOC di Nusantara dan dampak terhadap perekonomian Indonesia.
2.         Sebagai motivasi untuk melanjutkan perjuangan bangsa di masa sekarang dan selanjutnya dalam bentuk yang berbeda.
3.         Sebagai suatu pengalaman bangsa yang jangan sampai terjadi kembali penjajahan di masa sekarang dan selanjutnya.

1.5   Metode
    Adapun metode yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan buku-buku sumber yang berkaitan dengan “Pengaruh VOC Terhadap Perekonomian Bangsa Indonesia” , kemudian mencari informasi dari media cetak maupun media elektronik, semisal koran, televisi, internet dll.



BAB II PEMBAHASAN

2.1  Sistem Perdagangan Monopoli V.O.C
Hasil pelayaran bangsa Belanda pada mulanya hanya mendatangkan kerugian, karena diantara para pedagang mereka sendiri senantiasa satu sama lain saling bersaing dan hanya bertujuan untuk mencari untung masing-masing. Pemerintah Belanda segera turun tangan dan membasmi segala pertentangan atau perebutan yang terjadi dengan jalan membentuk suatu persatuan atau penggabungan diantara kongsi dagang yang ada. Demikian pada tahun 1602 berdirilah di negeri Belanda persatuan kongsi dagang yang diberi nama V.O.C singkatan dari Verenigde Oost Indische Compagnie. Persatuan kongsi tersebut dari pemerintah Belanda memperoleh berbagai hak seperti boleh bertindak atas nama pemerintah Belanda dengan segala kekuasaan seolah-olah bagaikan suatu pemerintahan  yang berdaulat penuh atas daerah-daerah yang dapat dikuasai antara Tanjung Harapan dan Selat Magelhaen. Dalam hubungan ini V.O.C selaku kongsi dagang besar sudah tentu akan menjalankan hak perniagaan tunggalnya (monopoli) di Indonesia yang tiada lain dimaksudkan untuk mencegah timbulnya persaingan. Adapun langkah-langkah untuk mencoba mempertahankan hak dagang tunggal itu antara lain; 1. harus dapat mengusir orang-orang Portugis dari perairan Indonesia 2. harus dapat menguasai raja-raja di Indonesia. Untuk dapat melaksanakan kedua maksud itu VOC mendirikan loji-loji sperti di Banten, Jakarta dan Hitu (Ambon). Ketiga tempat itu letaknya sangat strategis sehingga dapat dijadikan basis untuk menyusun kekuatan dalam melaksanakan siasatnya. karena itu pulalah maka pengaruh VOC atas penduduk pribumi tampak sangat besar di kedua bagian dari kepulauan Indonesia yakni  di Jawa dan Maluku.
Bagaimanapun juga keadaannya, system monopoli memang merupakan suatu senjata ampuh yang harus dipertahankan oleh VOC, karena hanya dengan system itulah berhasil atau tidaknya usaha mereka dapat melangsungkan perniagaan di Indonesisa atau Asia pada umumnya. Monopoli bukanlah semata-mata dimaksudkan untuk mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya melainkan juga untuk mempertahankan diri terhadap kemungkinan-kemungkinan datangnya ancaman dari pedagang-pedagang asing lainnya terutama Portugis dan Inggris. Setiap pedagang baik bangsa-bangsa Eropa maupun Asia termasuk Indonesia pada waktu itu berusaha untuk mendapatkan monopoli. Dalam hubungan ini para pengurus VOC (Heren Zevention) yang merestui dijalankannya system monopoli, memperingatkan agar dalam pelaksanaannya tidak mempergunakan kekerasan dan senantiasa memelihara perdamaian. Namun karena hal ini tidak menghasilkan keuntungan, VOC malahan bertindak sebaliknya yakni melancarkan peperangan dengan dalih mengamankan posisi dan menanamkan kekuasaan wilayah. Tanpa menjalankan tindakan itu, VOC beranggapan hanya akan merugikan kedudukan sendiri. Karena itulah setiap permintaan bantuan yang berasal dari raja-raja Indonesia yang lainnya yang terlibat dalam pertengkaran hebat, selalu disambut baik dengan pengharapan bahwa VOC kemudian akan menerima imbalan jasa yang setimpal. Bukankah dengan demikian VOC akan mendapatkan hak monopolinya. Pada mulanya tampaklah seolah-olah bahwa karena kepentingan politik dan ekonomi menyebabkan orang Belanda dan Indonesia masing-masing setuju untuk menjalin kerjasama. Tetapi pasti sekali bahwa antara kedua bangsa tersebut terdapat perbedaan sifat, pembawaan dan cita-cita yang sudah barang tentu akan menghasilkan permusuhan, pertentangan dan bahkan malapetaka bagi salah satu pihak.

2.2  Peranan Rakyat Maluku Menghadapi Monopoli VOC
Ketika orang-orang Belanda sampai di Maluku pada sekitar tahun 1600, mereka mendapat sambutan yang mengembirakan bagi penduduk pribumi yang mengharapkan bantuan untuk melawan orang-orang Portugis yang sangat diencinya. Setelah Belanda berturut-turut berhasil membebaskan Ambon dan Tidore dari orang-orang Portugis, maka sebagai hadiah memperoleh monopoli rempah-rempah.Pada permulaannya hubungan antara VOC dengan penduduk Maluku berjalan lancar, tetapi setelah VOC mulai melaksanakan monopolinya dengan secara ketat, barulah rupanya penduduk mulai sadar akan bahaya yang mengancam kehidupan mereka selanjutnya. Sebelum itu bangsa Portugispun sudah mulai menjalankan system monopoli, tetapi bangsa belanda menjalankannya dengan cara yang lebih teratur dan lebih kejam, terutama di Banda.
Dengan system monopoli itu VOC hendak memaksa penduduk kepulauan Banda supaya menjual rempah-rempahnya kepda VOC. Bilamana penduduk menjual rempah-rempah itu pada pedagang lain , maka hal itu dianggap VOC sebagai suatu kecurangan karena melanggar perjanjian yang telah disepakati bersama dan oleh sebab itu harus mendapat hukuman. Setelah itu (1609) pecahlah peperangan di sekitar Banda, tetapi kelebihan senjata yang dimiliki VOC menyebabkan bahwa penduduk Banda dapat dengan mudah ditaklukannya. Namun tampaknya hubngan baik mereka tak dapat dipulihkan kembali sehingga sejak peristiwa itu permusuhan antara mereka hakekatnya semakin lama semakin meruncing.
Jan Pieter Zoon Coen memutuskan untuk mengatasi situasi Banda yang  dianggapnya sangat menghambat pergerakan kegiatan  VOC di Indonesia dengan mengirim armada yang kuat dan dimaksudkan hendak melumpuhkan tindakan orang-orang Banda yang dianggap sebagai suatu pembangkangan. Meskipun rakyat Banda mengadakan perlawanan yang gagah berani tetapi akhirnya dapat di taklukan. banyak penduduk yang tidak berdosa dibunuh secara kejam sedangkan yang tidak dibunuh diangkut ke Jakarta untuk dijadikan budak.  Tanahnya yang mereka tinggalkan oleh VOC dibagi-bagikan kepada bekas pegawai-pegawai VOC dalam bentuk kebun-kebun yang kemudian dengan bantuan orang-orang Cina dan budak belian ditanami dengan pohon pala. Sudah tentu hasilnya nanti harus mereka serahkan kepda VOC, dengan memperoleh ganti rugi yang telah di tetapkan. penyerahan paksa berlangsung hingga tahun 1863.
VOC mengalami kesulitan bukan saja di Banda tapi juga di Ambon, Ternate dan Tidore. Pelaksanaan system monopoli VOC disanapun sangat di tentang penduduk karena dirasakan benar-benar terlampau merugikan rakyat. untuk memperkuat system monopilnya, VOC juga menjalankan pembatasan penanaman rempah-rempah untuk menjaga agar harganya di pasaran tetap tinggi. kalu misalnya gudang VOC sudah penuh rempah-rempah maka penduduk Maluku diperintahkan untuk merusak tanamannya. Dan bilamana rempah-rempah dipasaran sangat laku, kepada penduduk diperintahkan untuk menanam tanaman-tanaman baru. Jumlah  tanaman dengan demikian ditetapkan pula.
Sementara itu VOC setiap tahun mengirim armada-aramadanya ke Maluku untuk merusak kelebihan tanaman. Pelayaran mereka ke Maluku yang semata-mata bertujuan hendak merusak tanaman-tanaman itu dinamakan pelyaran hongi. Jadi pelayaran hongi dapat diartikan sebagai suatu iring-iringan kapal yang dipersenjatai dan bertujuan hendak memusnahkan pohon-pohon cengkih/rempah-rempah di daerah dimana itu tidak diperbolehkan tumbuh.
Penderitaan rakyat Maluku bukanlah hanya karena system monopoli yang di jalankan oleh VOC saja, akan tetapi ditambah lagi karena perlakuan para pegawai VOC dan kepala Pribumi, yang bertindak tidak jujur. kedua golongan ini pada  hakekatnya sering berbuat demi kepentingan sendiri saja. Dalam program penyerahan atau pembayaran uang untuk rempah-rempah yang dijual rakyat kepada VOC, biasanya mereka berbuat kecurangan dengan cara mengkorup sebagian, misalnya 10% oleh kepala Pribumi dan beberapa persen lagi oleh VOC. Perbuatan tidak jujur daripada pegawai VOC itu dapat dimaklumi karena mereka mendapat upah yang sedikit sekali, jadi rupanya dari pada mereka harus hidup serba kekurangan mereka terpaksa memilih jalan lain yakni mengadakan penyelewengan sedangkan para kepala-kepalaPribumi rupanya bukan lah semata-mata ditujukan demi kepentingan pribadi saja. Akan tetapi untuk mengisi kas keratin yang semula diperoleh dengan jalan peranan mereka ,langsung mengambil keuntungan dalam perdagangan dan setelah kedatangan orang-orang Eropa mereka tidak mempunyai sumber penghasilan apa-apa lagi. Itulah sebabnya maka Sultan Ternate tidak disukai lagi oleh rakyatnya, karena mereka beranggapan bahwa Sultan bersikap sangat taat kepada VOC dan seolah-olah tak ada suatu usaha untuk menentang system monopoli VOC yang sangat kejam itu.
Demikian setelah VOC telah mendatangkan kehancuran bagi seluruh rakyat Maluku. dalam hubngan ini Gonggrijp memberikan bukti sebagai berikut : “Kemiskinan yang berlangsung menjelang akhir abad ke 18 dan tahun-tahun berikutnya, berkurangnya jumlah penduduk diperkirakan sekitar 100.000 orang atau kira-kira 2/3 dari jumlah pada permulaan abad 17.
Seiring dengan berkurangnya penduduk, maka berturun pula produksi rempah-rempah, sedangkan berkurangnya penduduk dan turunnya produksi itu semata-mata merupakan akibat daripada dilaksanakannya mnopoli yang senantiasa diikuti oleh peperangan hebat. Alhasil system monopoli VOC-lah yang telah membinasakan kemakmuran rakyat Maluku. Sebelum  kedatangan orang-orang eropa desa-desa di Maluku berproduksi untuk pasaran dunia, tetapi berlakunya system monopoli oleh kedua kedua bangsa tersebut Portugis dan Belanda, maka sifat perdagangan bebas mereka yang merupakan sumber kemakmuran menjadi terancam.

2.3  Kehidupan Ekonomi Masyarakat Jawa dalam periode VOC
Banten yang merupakan sebuah kota pantai atau  Bandar terpenting di Jawa pada sekitar tahun 1600. Banten sebenarnya baru muncul setelah jatuhnya Malaka pada tahun 1511 dan sejak saat itu mengalami perkembangannya sampai menjelang akhir abad ke 17 yaitu setelah VOC memperoleh monopoli perdagangan dari raja Banten sebagai upah hasil pemberian bantuan dalam peperangan antara keluarga sendiri (antara Sultan dan putra mahkota). Bangunan kota terdiri dari perumahan-perumahan rakyat, yang terbuat dari pada kayu dan bambu sedangkan di sekelilingnya terdapat perbentengan yang dibuat dari batu berfungsi sebagai pelindung kota bila terjadi serangan dari luar. Susunan masyarakatnya terdiri dari : 1. Kaum bangsawan yaitu raja,patih dan syahbandar, 2. golongan rakyat jelata yaitu pedagang dan petani, 3. budak belian. Yang paling berkuasa dalam pemerintahan adalah patih, ia merupakan penguasa yang tak terbatas, sehingga raja atau para raja penguasa lainnya tunduk dan tak dapat berbuat sesuatu selama ia berkuasa. Disamping itu juga Syahbandar mempunyai kedudukan penting, ia memiliki budak-budak belian dalam jumlah besar dan mempunyai hak beli utama terhadap barang-barang impor atau barang yang berasal dari pedalaman untuk diekspor (misalnya lada). Dari hal beli uita ma itulah baik patih maupun syahbandar memperoleh keuntungan  yang berlimpah. Mereka sama sekali tidak memperhatikan rakyatnya.
Daerah pedalaman Jawa yang muncul setelah pertengahan abad ke 16 ialah Kerajaan Mataram dan mulai mengalami perkembangannya pada akhir bad 16. Sebab itu Mataram men jadi sebuah Kerajaan besar yang berhasil menciptakan persatuan diantara kerajaan-kerajaan kecil yang berada disekitarnya. Tetapi usaha-usaha untuk mencapai kekuasaan diseluruh Jawa mengalami kegagalan karena terbendung oleh kekuasaan VOC di Batavia. Sebelumnya memang keliatan telah berhasil melakukan serangkaian peperangan dengan kota pantai yang semula dianggapa sebagai penghalang utama sperti Demak, Pasuruan, Tuban, Gresik, Madura dan Surabaya. Tetapi berlangsungnya peperangan antara tahun 1604-1625 itu mengakibatkan suatu malapetaka bagi perdagangan laut Jawa pada umumnya atau bagi kekuasaan Mataram pada khususnya . Karena peperangan melawan Surabaya yang berakhirnya dengan di kuasainya kota dagang itu pada tahun 1625, telah berakibat bahwa pelayaran dari Maluku ke Makasar yang semula melalui Jawa Timur lalu berpindah melalui Makasar. Hal ini merupakan suatu kerugian tersendiri dan sangat besar dampaknya bagi pelayaran Jawa, karena banyak pedagang dari Jawa Timur lalu berpindah ke Makasar dan Banjarmasin sedangkan barang-barang eksporpun lenyap pula.  Dalam hubungan dengan terjadinya peristiwa rentetan peperangan tersebut di atas, Burger mengemukakan pendapat bahwa tindakan Mataram itu dikaitkan dengan motif tertentu. Dikatakan memang ada tendensi bahwa Raja Mataram melarang rakyatnya melakukan perdagangan laut, karena perdagangan luar negeri adalah monopoli raja. Selain raja, bilamana ada orang lain yang berani mengekspor beras dijatuhi hukuman mati. Dengan jalan demikian, maka VOC yang sangat menggantungkan perbekalan makanan dari Mataram akan mengalami kesulitan. Disamping itu ada kemungkinan bahwa monopoli raja itu dimaksudkan agar  kekuasaan seluruhnya di pegang dalam tangan kaum bangsawan/raja, karena bilamana tidak mustahilah kekuasaannya akan terancam bila seandainya rakyat pesisir hidup dengan subur dan makmur.
Teranglah kiranya, bahwa politik Mataram (Sultan Agung) untuk melemahkan daerah pesisir itu sebenarnya justru tidak tepat. Hal ini terbukti waktu Mataram menghadapi VOC. Apabila Mataram memiliki kekuasaan laut dengan daerah-daerah pesisirnya yang kuat, seharusnya ia mampu membendung atau setidak-tidaknya memberikan  perlawanan yang wajar terhadap setiap politik agresi VOC yang dilancarkan dalam rangka memperluas wilyah kekuasaannya di Indonesia. Memang betul Mataram sebagai negara pertanian yang padat penduduknya sanggup mengerahkan angkatan daratnya yang kuat, tetapi terbukti misalnya bahwa serangan-serangan Mataram terhadap Batavia (tahun 1628 dan tahun 1629) mengalami kegagalan. Hal itu dikarenkan tidak adanya dukungan dari angkatan laut Mataram yang lemah dan sedikit itu. Kegagalan Sultan Agung untuk mengusir VOC dari Batavia umumnya sangat besar artinya buat perjalanan sejarah tanah   air Indonesia sebab bagaiamanapun juga setelah Mataram dibawah pimpinan Sultan agung dapat ditundukan VOC di jawa, sesudah itu kedudukan VOC tidak dapat di goyahkan oleh kekuasaan manapun juga. VOC yang semula datang ke tanah air kita sebagai pedagang rempah-rempah, sejak itu (1629) mulai ikut berbicara dalam soal-soal politik kerajaan Jawa/Indonesia umumnya dan dengan leluasa mulai memainkan peranannya sebagai kekuasaan colonial. Kelemahan politik raja-raja Jawa/Indonesia sebagai akibat berlangsungnya peperangan saudara, memberikan kemungkinan dan kesempatan baik kepada VOC untuk memperluas pengaruh politik atau tekanan ekonominya setiap kali VOC diajak ikut campur tangan dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan antara sesame  orang Indonesia. Peristiwa-peristiwa tersebutlah yang sebenarnya mempercepat proses meluasnya pengaruh kekuasaan di seluruh Jawa atau bahkan seluryuh tanah air Indonesia.




BAB III PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Jadi, awal masuk bangsa-bangsa Eropa ke Nusantara khususnya bangsa Belanda sedikit banyaknya mempengaruhi dan merubah tatanan kehidupan Bangsa Indonesia terutama dalam bidang perekonomian di Indonesia pada saat itu. Dengan terbentuknya persatuan kongsi dagang Belanda pada tahun 1602 dengan nama VOC (Verenigde Oost Indische Company) merupakan tonggak awal eksistensi Belanda di Nusantara dalam perdagangan (khususnya rempah-rempah) . Dalam hubungan ini V.O.C selaku kongsi dagang besar sudah tentu akan menjalankan hak perniagaan tunggalnya (monopoli) di Indonesia yang tiada lain dimaksudkan untuk mencegah timbulnya persaingan serta menguasai perdagangan di Nusantara.
Dalam peranannya di Nusantara khususnya Maluku, VOC mulai melakukan politik monopoli perdagangan. yang berdampak pada kesengsaraan rakyat Maluku, bukan semata-mata karena politik monopolinya saja tapi di tambah lagi oleh perlakuan semena-mena VOC terhadap rakyat Maluku. Dengan system monopoli itu VOC hendak memaksa penduduk kepulauan Banda supaya menjual rempah-rempahnya kepda VOC. Bilamana penduduk menjual rempah-rempah itu pada pedagang lain , maka hal itu dianggap VOC sebagai suatu kecurangan karena melanggar perjanjian yang telah disepakati bersama dan oleh sebab itu harus mendapat hukuman. Setelah itu (1609) pecahlah peperangan di sekitar Banda dan melebar ke daerah sekitarnya, tetapi senjata yang dimiliki VOC yang lebih canggih dapat dengan mudah mengatasinya.
Politik Monopoli juga dianut oleh Kerajaan di daerah pulau Jawa seperti Mataram yang melakukan Monopoli beras guna melemahkan kekuasaan VOC yang berbasis di Batavia. Akan tetapi hal ini malah merugikan pihak Mataram sendiri karena para pedagang yang tadinya melakukan transaksinya di daerah Jawa Timur, menjadi berbelok ke Makasar. Sehingga menurunkan pendapatan Mataram sendiri, yang akhirnya takluk kpada VOC.

3.2   Kritik dan Saran
Mungkin dalam pembuatan makalah yang kami buat banyak kekurangan dan kesalahan, maka dari itu penulis bersedia menerima saran maupun kritik demi perbaikan selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Satradinata, kosoh.1975. Sejarah Perekonomian.Bandung